Serangan Israel Picu Ketegangan di Selatan Lebanon

Tank-tank Israel bergerak di dekat perbatasan Israel-Lebanon, Selasa, 1 Oktober 2024. (AP/AP)
INDOSBERITA.ID.BEIRUT – Situasi keamanan di sepanjang Garis Biru, wilayah perbatasan Lebanon–Israel, kembali memanas pada Jumat (23/1/2026). Sebuah tank Israel dilaporkan melepaskan tembakan di dekat patroli gabungan Tentara Lebanon dan Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL) saat keduanya tengah menjalankan tugas di wilayah selatan Lebanon.
Berdasarkan informasi dari lapangan, proyektil tank tersebut mendarat di sekitar Wadi Al-Asafir, di selatan Kota Khiam. Sejumlah saksi mata menyebutkan tembakan berasal dari posisi militer Israel yang baru dibangun di kawasan Hamams. Meski tidak menimbulkan korban, insiden ini meningkatkan kekhawatiran akan potensi eskalasi lebih lanjut di kawasan perbatasan.
Sumber militer Lebanon mengatakan kepada Arab News bahwa insiden semacam ini telah berulang kali terjadi. Ia menegaskan pasukan Israel sebelumnya juga pernah menargetkan unit Tentara Lebanon dan UNIFIL saat operasi di wilayah selatan Sungai Litani. UNIFIL, lanjutnya, telah beberapa kali mengeluarkan pernyataan kecaman atas tindakan tersebut.
Masih pada hari yang sama, ketegangan kembali bertambah setelah sebuah drone Israel menembakkan tiga rudal ke arah sebuah kendaraan di wilayah Baalbek, Lebanon bagian timur. Serangan tersebut diduga merupakan upaya pembunuhan yang gagal.
Menurut keterangan saksi, rudal pertama menghantam sebuah mobil yang melintas di jalan Majdaloun–Baalbek. Pengemudi kendaraan, yang disebut-sebut seorang warga Palestina, berhasil menyelamatkan diri dengan keluar dari mobil dan melemparkan ponselnya sebelum menghentikan kendaraan di dekat Rumah Sakit Dar Al-Amal. Rudal kedua dilaporkan meleset dan hanya menyebabkan kerusakan materi, sementara rudal ketiga kembali diluncurkan tanpa menimbulkan korban jiwa maupun luka-luka.
Rangkaian insiden ini terjadi di tengah sikap skeptis Israel terhadap langkah Lebanon dalam menyita senjata di wilayah selatan Sungai Litani. Otoritas Israel menilai pernyataan Beirut mengenai penyelesaian tahap awal perlucutan senjata sebagai langkah simbolis yang bertujuan mengulur waktu.
Sebaliknya, pemerintah Lebanon menegaskan proses tersebut dijalankan sesuai strategi nasional bertahap dan mendapat dukungan dari sejumlah mitra internasional.
Pada Jumat, Presiden Lebanon Joseph Aoun menggelar pertemuan dengan Ketua Parlemen Nabih Berri untuk membahas meningkatnya aksi militer Israel, termasuk pemboman di kawasan permukiman di utara Sungai Litani yang menyebabkan puluhan keluarga terpaksa mengungsi. Di saat yang sama, Aoun menghadapi kritik keras dari kelompok aktivis yang berafiliasi dengan Hezbollah. Sejak Kamis, beredar kampanye di media sosial yang menuding presiden mengkhianati perlawanan, disertai narasi dan video bernada menghina.
Meski demikian, seorang pejabat Lebanon menyatakan bahwa Nabih Berri tetap memberikan dukungan kepada Presiden Aoun. Menurutnya, Berri terus berperan sebagai mediator dan menilai akar persoalan terletak pada minimnya tekanan internasional terhadap Israel agar mematuhi gencatan senjata dan menghentikan pelanggaran yang terus terjadi.




