NORAD Kerahkan Pesawat Tambahan ke Greenland

Pesawat tempur F-35. (AP/Alex Brandon)
INDOSBERITA.ID.WASHINGTON – Komando Pertahanan Dirgantara Amerika Utara (North American Aerospace Defense Command/NORAD) mengumumkan penambahan pengerahan pesawat militer ke Pangkalan Luar Angkasa Pituffik, Greenland. Langkah tersebut disebut sebagai bagian dari rencana operasi pertahanan jangka panjang yang telah disusun jauh hari sebelumnya.
Dalam keterangan resmi yang dirilis Senin (19/1/2026), NORAD menyampaikan bahwa sejumlah pesawat militer dijadwalkan tiba di pangkalan strategis itu dalam waktu dekat. Pengerahan ini dilakukan untuk memperkuat kesiapan operasional bersama pasukan yang telah lebih dulu ditempatkan di Amerika Serikat dan Kanada.
NORAD menegaskan, operasi tersebut dilaksanakan melalui kerja sama pertahanan yang solid antara Amerika Serikat, Kanada, dan Denmark. Seluruh kegiatan juga telah dikoordinasikan dengan pemerintah Denmark serta disosialisasikan kepada otoritas setempat di Greenland.
Meski demikian, NORAD tidak mengungkapkan secara rinci jenis pesawat maupun tujuan teknis dari misi tersebut. Badan pertahanan itu hanya menekankan bahwa pengerahan pasukan dan aset militer semacam ini merupakan bagian dari rutinitas untuk menjaga keamanan wilayah udara Amerika Utara.
Sebagai komando terpadu yang dibentuk oleh Amerika Serikat dan Kanada sejak 1957, NORAD memiliki mandat utama untuk mendeteksi, memantau, dan menanggapi potensi ancaman dari luar kawasan Amerika Utara, baik melalui udara maupun ruang angkasa.
Pangkalan Pituffik sendiri memiliki peran strategis sejak didirikan pada 1951. Pada era Perang Dingin, fasilitas ini menjadi elemen penting sistem peringatan dini terhadap ancaman serangan nuklir Uni Soviet. Hingga kini, Pituffik tetap menjadi instalasi militer paling vital milik AS di kawasan Arktik.
Pangkalan tersebut menampung sistem Upgraded Early Warning Radar (UEWR) yang berfungsi mendeteksi peluncuran rudal balistik, serta mengelola jaringan kontrol satelit militer yang mendukung komunikasi dan pemantauan secara real-time.
Pengerahan tambahan ini menjadi perhatian publik karena berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan politik terkait Greenland. Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya beberapa kali melontarkan pernyataan kontroversial mengenai keinginannya untuk menguasai pulau tersebut, yang merupakan wilayah otonom di bawah kedaulatan Denmark.
Pernyataan itu menuai penolakan keras dari Denmark yang menegaskan Greenland tidak dapat diperjualbelikan. Sejumlah negara Eropa juga menyuarakan kekhawatiran bahwa ambisi tersebut berpotensi mengganggu stabilitas kawasan serta meretakkan solidaritas dalam aliansi NATO.




