Minyak Dunia Menguat Setelah Sempat Anjlok

Ilustrasi minyak mentah. (Istimewa)
INDOSBERITA.ID.LONDON – Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Rabu (11/3/2026) di tengah keraguan pasar terhadap rencana pelepasan cadangan minyak oleh International Energy Agency (IEA). Langkah tersebut dinilai belum tentu mampu meredam potensi gangguan pasokan akibat konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran.
Minyak mentah Brent tercatat naik US$3,31 atau sekitar 3,8 persen menjadi US$91,11 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) dari AS juga menguat US$3,13 atau 3,8 persen ke level US$86,58 per barel.
Kenaikan harga ini terjadi setelah sehari sebelumnya kedua kontrak minyak sempat merosot lebih dari 11 persen. Meski sempat melonjak sekitar 5 persen pada awal perdagangan, volatilitas masih tinggi karena ketidakpastian geopolitik di kawasan Timur Tengah.
IEA diperkirakan akan merekomendasikan pelepasan sekitar 400 juta barel minyak dari cadangan strategis global. Jika direalisasikan, jumlah tersebut menjadi yang terbesar sepanjang sejarah lembaga energi internasional itu.
Langkah tersebut dirancang untuk menekan lonjakan harga energi yang dipicu konflik antara AS dan Israel dengan Iran. Sebagai perbandingan, pada 2022 dunia pernah melepas sekitar 182 juta barel minyak setelah invasi Rusia ke Ukraina.
Menurut sumber yang mengetahui rencana tersebut, pelepasan cadangan minyak kemungkinan dilakukan secara bertahap selama setidaknya dua bulan. Negara-negara anggota juga disebut memiliki waktu hingga 90 hari untuk mulai merealisasikan kebijakan tersebut.
Meski demikian, analis dari Goldman Sachs menilai langkah pelepasan cadangan kemungkinan hanya memberi dampak terbatas. Dalam catatan kepada klien, mereka menyebut pelepasan 182 juta barel sebelumnya hanya mampu menutup sekitar 12 hari gangguan ekspor minyak dari kawasan Teluk yang mencapai sekitar 15,4 juta barel per hari.
Analis pasar dari Skandinaviska Enskilda Banken, Bjarne Schieldrop, mengatakan pelaku pasar masih meragukan bahwa pelepasan cadangan strategis terbesar sekalipun dapat menyeimbangkan dampak krisis yang sedang berlangsung.
Di sisi lain, ketegangan militer terus meningkat. Pada Selasa (10/3/2026), AS dan Israel melancarkan serangan udara besar ke Iran yang disebut oleh Pentagon dan pihak Iran sebagai salah satu serangan paling intens dalam konflik tersebut.
Militer AS juga mengklaim telah menghancurkan 16 kapal Iran yang diduga menanam ranjau laut di sekitar Selat Hormuz, jalur pelayaran penting bagi distribusi minyak dunia.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya memperingatkan bahwa ranjau yang dipasang Iran di jalur tersebut harus segera disingkirkan. Ia juga menyatakan AS siap mengawal kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz bila situasi memerlukan.
Namun, sejumlah sumber menyebut Angkatan Laut AS untuk sementara menolak permintaan industri pelayaran untuk memberikan pengawalan militer karena risiko serangan dinilai masih terlalu tinggi.
Sementara itu, para pejabat negara-negara anggota Group of Seven (G7) juga menggelar pertemuan daring guna membahas kemungkinan pelepasan cadangan minyak darurat untuk meredam lonjakan harga energi global.




