Menkeu: Ekonomi RI Masih Ekspansi Meski IHSG Rupiah Melemah

Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa. Foto: Metrotvnew.com/Husen.
INDOSBERITA.ID JAKARTA –Â Pemerintah memastikan kondisi perekonomian Indonesia masih berada pada jalur ekspansi meskipun pasar keuangan mengalami tekanan. Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah dinilai belum mencerminkan kondisi fundamental ekonomi nasional.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pemerintah terus menjaga daya beli masyarakat agar pertumbuhan ekonomi tetap stabil. Ia menilai situasi ekonomi saat ini masih jauh dari potensi krisis ataupun resesi.
Menurutnya, pemerintah fokus mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi dalam beberapa waktu ke depan dengan berbagai langkah kebijakan yang mendukung aktivitas ekonomi.
Pada perdagangan Senin sore, IHSG tercatat melemah cukup dalam. Indeks turun 248,32 poin atau 3,27 persen ke level 7.337,37. Sementara indeks saham unggulan LQ45 ikut turun 25,47 poin atau 3,28 persen menjadi 750,57.
Di pasar valuta asing, rupiah juga mengalami pelemahan. Mata uang Garuda ditutup turun 24 poin ke posisi Rp16.949 per dolar Amerika Serikat dari sebelumnya Rp16.925 per dolar AS. Bahkan selama sesi perdagangan, rupiah sempat melemah hingga 70 poin.
Meski demikian, Purbaya menilai gejolak di pasar keuangan merupakan hal yang wajar. Ia menyebut Indonesia memiliki pengalaman menghadapi berbagai krisis global, seperti Krisis Moneter Asia 1997–1998, Krisis Keuangan Global 2008, serta dampak ekonomi dari pandemi COVID-19 pada 2020.
Pengalaman tersebut, kata dia, menjadi bekal penting bagi pemerintah dalam menyiapkan langkah mitigasi jika terjadi gejolak ekonomi.
Untuk memastikan kondisi ekonomi riil, Purbaya bahkan melakukan inspeksi mendadak ke pusat perdagangan Pasar Tanah Abang di Jakarta. Kunjungan tersebut dilakukan setelah muncul spekulasi mengenai potensi resesi di Indonesia.
Dari hasil pemantauan di lapangan, ia menilai aktivitas perdagangan masih berjalan normal dan daya beli masyarakat tetap terjaga.
Pemerintah juga terus memantau perkembangan situasi global, termasuk ketegangan geopolitik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel yang berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dunia.
Jika lonjakan harga minyak melampaui batas yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), pemerintah akan menyiapkan kebijakan untuk meredam dampaknya terhadap perekonomian.
Selain itu, pemerintah menegaskan belum ada rencana menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi. Menurut Purbaya, ruang fiskal dalam APBN masih cukup untuk menahan dampak gejolak global saat ini.(Zr)




