Makassar Jadi Fokus Penanganan TBC Nasional

Ilustrasi TBC (Freepik.com/Lifestylememory)
INDOSBERITA.ID.MAKASSAR – Ancaman tuberkulosis (TBC) masih menjadi persoalan serius di Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Kota ini masuk dalam daftar wilayah prioritas nasional penanganan TBC karena berada di salah satu dari delapan provinsi dengan jumlah kasus tertinggi di Indonesia.
Bersama Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Banten, DKI Jakarta, Nusa Tenggara Timur, Sumatera Utara, dan Sulawesi Selatan, Makassar menjadi fokus utama pemerintah dalam upaya menekan penyebaran penyakit menular tersebut.
Data tahun 2025 mencatat sebanyak 9.885 warga Makassar terdiagnosis TBC dan telah menjalani pengobatan. Namun, Kementerian Kesehatan menilai angka tersebut justru menjadi dasar untuk memperluas langkah penelusuran kasus.
Wakil Menteri Kesehatan Benyamin Paulus Octavianus mengatakan, setiap kasus TBC berpotensi melibatkan satu keluarga yang perlu diperiksa secara menyeluruh. Karena itu, pendekatan penanganan dilakukan berbasis rumah tangga.
“Kalau ada hampir 10 ribu kasus, berarti ada ribuan rumah yang harus dikunjungi. Semua anggota keluarga akan diperiksa, bukan hanya TBC, tetapi juga penyakit lain seperti diabetes dan hipertensi,” ujar Benyamin saat meninjau Puskesmas Ballaparang, Kecamatan Rappocini, Selasa (13/1/2026).
Untuk mendukung langkah tersebut, Kementerian Kesehatan menyiapkan rontgen portabel yang dapat dibawa langsung ke lingkungan warga. Alat seberat sekitar tiga kilogram itu dirancang agar pemeriksaan bisa dilakukan hingga tingkat kelurahan bahkan ke rumah-rumah.
Khusus Makassar, pemerintah menargetkan penyediaan 20 unit rontgen portabel. Setiap unit diperkirakan mampu melayani sekitar 3.000 orang, sehingga potensi pemeriksaan sepanjang 2026 bisa menjangkau hingga 60.000 warga.
Selain dukungan pusat, Pemerintah Kota Makassar juga menjalankan inovasi lokal bertajuk “Hantu Mesra” atau hunting tuberkulosis dengan metode mengetuk rumah warga. Program ini mendorong petugas kesehatan aktif mendatangi masyarakat untuk deteksi dini dan edukasi, bukan menunggu pasien datang ke fasilitas kesehatan.
Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin menyebut pendekatan jemput bola ini lahir dari kondisi sosial di lapangan, di mana masih banyak warga enggan memeriksakan diri karena takut atau stigma penyakit.
“Dengan mengetuk pintu rumah warga, pendekatannya lebih manusiawi dan efektif,” ujarnya.
Pemerintah optimistis, dengan kolaborasi pusat dan daerah serta pendekatan aktif ke masyarakat, angka TBC di Makassar dapat ditekan secara signifikan dalam beberapa tahun ke depan, bahkan ditargetkan tuntas sebelum 2029.




