Jejak Nama Hormuz, dari Kota Dagang Kuno ke Nadi Energi Global

Ilustrasi Selat Hormuz. (Gemini AI/Istimewa)
INDOSBERITA.ID.JAKARTA – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali menempatkan Selat Hormuz sebagai pusat perhatian dunia. Jalur pelayaran vital ini mengalami gangguan serius akibat meningkatnya konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Dalam beberapa waktu terakhir, aktivitas kapal tanker di kawasan tersebut dilaporkan menurun tajam. Ancaman serangan dan insiden terhadap kapal komersial membuat distribusi minyak dan gas terganggu, sehingga memicu kenaikan harga energi global.
Namun, posisi strategis Selat Hormuz tidak muncul begitu saja. Nama “Hormuz” berasal dari sebuah kota pelabuhan kuno di wilayah selatan Persia (kini Iran). Kota ini sempat dipindahkan ke pulau terdekat demi alasan keamanan dan berkembang menjadi pusat perdagangan penting antara abad ke-13 hingga ke-16.
Pada masa kejayaannya, pelabuhan Hormuz menjadi titik temu pedagang dari India, Arab, dan Persia. Berbagai komoditas bernilai tinggi seperti sutra, keramik, dan tekstil diperdagangkan di kawasan ini. Seiring waktu, nama Hormuz kemudian digunakan untuk menyebut selat sempit di sekitarnya.
Secara etimologis, istilah Hormuz diyakini berkaitan dengan Ahura Mazda, sosok dewa utama dalam ajaran Zoroastrianisme yang melambangkan cahaya dan kebijaksanaan. Pengaruh budaya Persia kuno membuat nama tersebut bertahan hingga kini.
Memasuki era modern, nilai penting Selat Hormuz bergeser dari jalur perdagangan menjadi jalur energi global. Sekitar seperlima pasokan minyak dunia melintasi perairan ini setiap hari, menjadikannya salah satu titik paling krusial dalam sistem energi internasional.
Secara geografis, selat ini menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Negara-negara produsen energi di kawasan Teluk sangat bergantung pada jalur ini untuk menyalurkan minyak dan gas ke pasar dunia, khususnya Asia.
Sejarah panjang konflik juga memperkuat posisi strategisnya. Pada 1980-an, kawasan ini menjadi arena Perang Tanker, ketika Iran dan Irak saling menyerang kapal tanker. Ketegangan serupa terus berulang dalam berbagai bentuk hingga dekade terakhir.
Kini, dengan eskalasi terbaru di kawasan, Selat Hormuz kembali berada di titik rawan. Gangguan kecil saja dapat berdampak besar pada perdagangan global, mengingat lebarnya yang sempit dan tingginya volume lalu lintas energi.
Selat ini bukan sekadar jalur laut, melainkan simbol pertemuan antara sejarah panjang peradaban, kepentingan ekonomi, serta dinamika konflik modern yang terus berkembang hingga hari ini.




