Isu Greenland Picu Lonjakan Aplikasi Boikot Produk AS

Ian Rosenfeldt, pencipta aplikasi seluler “Made O’Meter”, mendemonstrasikan bagaimana pembeli dapat menggunakan aplikasi tersebut dalam berbagai bahasa untuk mengidentifikasi dan memboikot barang-barang Amerika di sebuah toko bahan makanan di Kopenhagen, Rabu, 28 Januari 2026. (AP Photo/James Brooks)
INDOSBERITA.ID.DENMARK – Lonjakan penggunaan sejumlah aplikasi ponsel untuk mengidentifikasi dan memboikot produk asal Amerika Serikat (AS) terjadi di Denmark dan beberapa negara lain. Fenomena ini muncul di tengah memanasnya ketegangan diplomatik antara Denmark dan AS terkait pernyataan Presiden AS Donald Trump soal Greenland, wilayah otonom Denmark yang strategis di kawasan Arktik.
Salah satu aplikasi yang mencuri perhatian adalah Made O’Meter, perangkat gratis yang dirancang untuk membantu konsumen mengetahui apakah suatu produk dibuat atau dimiliki oleh perusahaan AS. Dibuat oleh Ian Rosenfeldt, aplikasi ini mengalami lonjakan unduhan yang signifikan saat puncak krisis pada akhir Januari 2026, dengan sekitar 30.000 unduhan hanya dalam tiga hari. Sejak diluncurkan pada Maret 2025, total unduhannya telah melampaui 100.000 kali.
Rosenfeldt, yang tinggal di Kopenhagen dan bekerja di bidang pemasaran digital, mengatakan ide aplikasi itu bermula dari keterlibatannya dalam grup Facebook warga Denmark yang ingin memboikot produk AS secara praktis. Banyak konsumen merasa frustrasi karena kesulitan mengetahui asal barang saat belanja, sehingga mereka kesulitan membuat keputusan pembelian yang selaras dengan nilai mereka.
Versi terkini aplikasi Made O’Meter menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk mengenali dan menganalisis banyak produk sekaligus. Ketika pengguna memindai produk dengan kamera ponsel, sistem akan menelusuri informasi asal-usul barang tersebut dan menampilkan rekomendasi alternatif buatan Eropa atau yang bukan berasosiasi dengan perusahaan AS. Aplikasi ini mengklaim memiliki tingkat akurasi lebih dari 95 persen dan menyediakan preferensi seperti opsi “tanpa merek AS” atau “hanya merek Uni Eropa”.
Lonjakan penggunaan aplikasi semacam ini kembali terlihat pada Januari lalu, setelah Trump meningkatkan retorika tentang kemungkinan AS menguasai Greenland—wilayah kaya mineral yang menjadi sorotan geopolitik. Pada puncak aktivitas, tercatat hampir 40.000 pemindaian produk dalam satu hari, jauh di atas frekuensi normal di luar periode ketegangan.
Selain “Made O’Meter”, aplikasi serupa seperti NonUSA juga mencatat pertumbuhan signifikan dan bahkan menempati peringkat atas di toko aplikasi Denmark, mencerminkan meningkatnya minat konsumen terhadap gerakan boikot produk AS.
Para pengembang dan pengguna aplikasi berharap bahwa alat ini dapat memberdayakan konsumen untuk membuat pilihan belanja yang lebih sadar—meskipun para analis mencatat bahwa dampak ekonomi nyata terhadap produk AS masih terbatas karena pangsa produk Amerika di rak supermarket relatif kecil.
Fenomena ini sekaligus menggambarkan respons publik di Eropa terhadap dinamika diplomatik yang sedang berlangsung dan bagaimana teknologi digital kini digunakan sebagai sarana ekspresi politik dan konsumen.




