Iran Ancam Pangkalan AS di Negara Tetangga

Massa berunjuk rasa sambil mengibarkan bendera Iran di depan kantor Kedutaan Besar di London, Inggris pada Senin 12 Januari 2026. (AP Photo/Alastair Grant)
INDOSBERITA.ID.DUBAI – Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali memanas. Pemerintah Iran secara terbuka mengirimkan peringatan keras kepada negara-negara di sekitarnya yang menjadi tuan rumah bagi pasukan Amerika Serikat. Teheran menegaskan, pangkalan militer AS di wilayah tersebut berpotensi menjadi sasaran jika Washington melancarkan serangan terhadap Iran.
Pernyataan itu disampaikan seorang pejabat senior Iran kepada Reuters, Rabu (14/1/2026), sebagai respons atas sikap Presiden AS Donald Trump yang kian agresif. Trump sebelumnya berulang kali melontarkan ancaman intervensi dengan dalih mendukung gelombang protes antipemerintah di Iran.
Situasi ini memicu peningkatan kewaspadaan di sejumlah pangkalan AS. Tiga sumber diplomatik menyebutkan, sebagian personel di Pangkalan Udara Al Udeid, Qatar, telah diminta bersiap meninggalkan lokasi. Namun, langkah tersebut disebut masih sebatas antisipasi dan belum mengarah pada evakuasi penuh.
Seorang diplomat menggambarkan kebijakan itu sebagai penyesuaian tingkat kesiapsiagaan, bukan perintah resmi untuk mengosongkan pangkalan. Hingga kini, baik Kedutaan Besar AS di Doha maupun otoritas Qatar belum mengeluarkan pernyataan terbuka terkait perkembangan tersebut.
Di sisi lain, tekanan politik dari Washington terus meningkat. Trump bereaksi keras terhadap laporan organisasi hak asasi manusia yang mencatat ribuan korban jiwa akibat penindakan aparat Iran terhadap demonstrasi. Dalam wawancara dengan media AS, Trump mengancam akan mengambil langkah ekstrem jika eksekusi terhadap demonstran masih berlangsung.
Tak hanya itu, Trump juga mendorong warga Iran melalui media sosial untuk terus turun ke jalan dan menjanjikan dukungan dari luar negeri. Sikap tersebut memicu respons cepat dari Teheran.
Pejabat Iran mengungkapkan bahwa negaranya telah menghubungi sejumlah negara kawasan, termasuk Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Turki. Iran meminta negara-negara tersebut tidak memfasilitasi serangan AS, seraya memperingatkan bahwa pangkalan militer asing di wilayah mereka dapat menjadi target balasan.
Ketegangan ini turut berdampak pada jalur diplomatik. Kontak langsung antara Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi dan Utusan Khusus AS Steve Witkoff dilaporkan terhenti, menandakan memburuknya komunikasi kedua pihak.
Meski pemerintah Iran mengklaim kondisi dalam negeri mulai terkendali, laporan kelompok HAM masih menunjukkan angka korban yang tinggi. Di tengah pembatasan internet, organisasi independen mencatat ribuan demonstran tewas, sementara laporan eksekusi terhadap aktivis muda masih terus bermunculan.
Seorang pejabat Barat menilai, meski aparat keamanan Iran masih memegang kendali, tekanan internal dan eksternal yang terjadi saat ini merupakan tantangan terbesar dalam beberapa dekade terakhir. Melemahnya posisi Iran di kawasan, seiring tekanan terhadap sekutu-sekutunya, membuat situasi semakin rawan eskalasi.
Sebagai langkah pencegahan, Departemen Luar Negeri AS telah mengimbau warganya untuk segera meninggalkan Iran melalui jalur darat menuju negara-negara tetangga, seperti Turki dan Armenia.




