Teknologi Insinerator Digadang Atasi Sampah Kota

Ilustrasi pembakaran sampah dengan teknologi insinerator. (Wastec International/Istimewa)
INDOSBERITA.ID, JAKARTA – Persoalan sampah di kawasan perkotaan semakin mendesak seiring pertumbuhan penduduk dan pesatnya kegiatan ekonomi. Kapasitas tempat pembuangan akhir yang kian terbatas mendorong pemerintah mencari alternatif penanganan, salah satunya melalui pemanfaatan teknologi insinerator atau pembakaran sampah terkontrol.
Arah kebijakan tersebut tercantum dalam Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 yang mengatur pengolahan sampah perkotaan menjadi energi terbarukan. Kebijakan ini menempatkan limbah bukan hanya sebagai masalah, tetapi juga sebagai potensi sumber energi berupa listrik, bioenergi, hingga bahan bakar alternatif.
Teknologi insinerator bekerja dengan membakar sampah pada suhu sangat tinggi dalam ruang tertutup. Proses ini menghasilkan panas yang dimanfaatkan untuk menggerakkan turbin pembangkit listrik. Energi yang dihasilkan kemudian dapat disalurkan ke jaringan listrik nasional. Untuk menekan dampak lingkungan, fasilitas modern dilengkapi sistem penyaring emisi dan pengolahan limbah cair.
Pendukung insinerator menilai teknologi ini mampu mengurangi volume sampah secara drastis sekaligus menekan risiko kesehatan akibat penumpukan limbah. Bagi kota besar dengan keterbatasan lahan, insinerator dianggap lebih praktis dibandingkan perluasan tempat pembuangan akhir, serta dinilai berkontribusi mengurangi ketergantungan pada energi fosil.
Meski demikian, kritik terus bermunculan dari berbagai kalangan. Organisasi lingkungan internasional seperti Global Alliance for Incinerator Alternatives (GAIA) menilai insinerator tidak menyelesaikan akar persoalan sampah. Pembakaran disebut hanya memindahkan masalah ke bentuk lain berupa abu beracun dan pencemaran udara, serta berpotensi menghambat pengembangan daur ulang dan pengomposan.
Kekhawatiran juga muncul terkait dampak kesehatan. Insinerator tetap menghasilkan polutan berbahaya seperti dioksin, furan, merkuri, dan partikel halus yang berisiko bagi sistem pernapasan dan jantung. Selain itu, residu pembakaran seperti fly ash dan bottom ash membutuhkan pengelolaan ketat karena sifatnya yang toksik. Sejumlah kajian menyebut biaya kesehatan dan lingkungan dari polusi bisa melampaui manfaat energi yang dihasilkan.
Melihat kondisi tersebut, para pakar menegaskan bahwa insinerator seharusnya tidak menjadi solusi utama pengelolaan sampah. Upaya pengurangan sampah dari sumbernya, peningkatan daur ulang, serta pengomposan dinilai tetap menjadi kunci pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Insinerator, jika digunakan, disarankan hanya sebagai pilihan terakhir dengan pengawasan ketat agar tidak menimbulkan masalah baru bagi lingkungan dan masyarakat.




