Insiden Feri di Basilan Filipina, 15 Orang Kehilangan Nyawa

Sejumlah korban feri tenggelam di Filipina Selatan dievakuasi oleh petugas penyelamat. (AP/AP)
INDOSBERITA.ID.BASILAN – Jumlah korban meninggal dunia dalam tragedi tenggelamnya kapal feri M/V Trisha Kerstin 3 di perairan dekat Pulau Baluk-baluk, Provinsi Basilan, Filipina Selatan, terus bertambah. Hingga Senin (26/1/2025), otoritas setempat mengonfirmasi 15 orang tewas, meningkat dari laporan awal yang mencatat delapan korban jiwa.
Operasi penyelamatan masih berlangsung intensif. Tim gabungan yang terdiri dari penjaga pantai, angkatan laut Filipina, relawan nelayan, serta dukungan helikopter Black Hawk telah berhasil menyelamatkan 316 penumpang dan awak kapaldalam kondisi hidup. Pencarian terhadap korban yang diduga masih hilang terus dilakukan dengan menyisir area laut di sekitar lokasi kecelakaan.
Menurut keterangan awal penjaga pantai, kapal feri tersebut mengalami gangguan teknis mendadak saat berlayar. Kapal dilaporkan miring tajam ke satu sisi, menyebabkan kepanikan massal. Tidak lama berselang, air laut masuk ke dalam badan kapal dan memaksa penumpang meloncat ke laut untuk menyelamatkan diri.
Tragedi ini juga diwarnai kisah pilu dari seorang penumpang bernama Mohamad Khan. Dalam rekaman video yang beredar luas di media sosial, ia menceritakan detik-detik terpisah dari keluarganya saat kapal mulai tenggelam. Bayinya yang masih berusia enam bulan terlepas dari gendongan sang istri dan tenggelam di laut. Khan dan istrinya selamat, namun anak mereka dinyatakan meninggal dunia.
Komandan Penjaga Pantai Filipina, Romel Dua, menyebut kapal tengah berlayar dari Zamboanga menuju Pulau Jolo dengan kondisi cuaca yang relatif normal. Ia menambahkan, seorang petugas keselamatan yang berada di atas kapal sempat memberikan peringatan sebelum insiden terjadi dan kini menjadi saksi penting dalam proses investigasi.
Meski dugaan sementara mengarah pada kerusakan teknis, otoritas memastikan kapal telah dinyatakan laik laut sebelum keberangkatan dan tidak membawa muatan berlebih. Penyelidikan menyeluruh akan dilakukan untuk mengungkap penyebab pasti kecelakaan tersebut.
Gubernur Basilan Mujiv Hataman terlihat langsung menyambut para penyintas di dermaga Isabela. Pemerintah daerah menyiagakan layanan medis, ambulans, serta bantuan logistik bagi korban dan keluarga mereka. “Beberapa korban tiba dalam kondisi kritis, bahkan sudah meninggal dunia,” ujarnya.
Insiden ini kembali menyoroti tingginya risiko transportasi laut di Filipina, negara kepulauan yang kerap dilanda kecelakaan maritim. Peristiwa tersebut mengingatkan publik pada sejumlah tragedi laut besar di masa lalu, termasuk tenggelamnya kapal Dona Paz pada 1987, yang menjadi salah satu kecelakaan laut terburuk dalam sejarah dunia.




