Industri Dinilai Penentu Murahnya Mobil Listrik

Industri Dinilai Penentu Murahnya Mobil Listrik

VinFast Indonesia meluncurkan mobil listrik tujuh kursi penumpang Limo Green di IIMS 2026. (ANTARA/DOK)

INDOSBERITA.ID.JAKARTA – Harga mobil listrik di Indonesia dinilai akan semakin terjangkau jika didukung oleh efisiensi rantai pasok industri, bukan hanya mengandalkan insentif dari pemerintah. Pandangan tersebut mengemuka dalam diskusi antara pengamat ekonomi Joshua Pardede dan CEO VinFast Indonesia Karijanto Hardjosoemarto terkait arah dan prospek pasar kendaraan listrik nasional.

Karijanto menyampaikan bahwa insentif pemerintah memang berperan penting dalam tahap awal pengembangan ekosistem kendaraan listrik. Namun, untuk menjaga pertumbuhan jangka panjang, industri harus mampu membangun struktur biaya yang lebih efisien.

“Insentif membantu di awal, tetapi ke depan yang menentukan adalah efisiensi supply chain agar harga mobil listrik bisa turun secara alami dan berkelanjutan,” kata Karijanto, Jumat (6/2/2026).

Ia menilai peluang pertumbuhan kendaraan listrik di Indonesia masih sangat besar. Bahkan, pasar mobil listrik disebut masih berpotensi meningkat hingga dua kali lipat seiring masuknya berbagai merek baru yang menawarkan produk dengan beragam segmen, fitur, dan rentang harga.

“Pilihan mobil listrik sekarang semakin banyak. Infrastruktur juga semakin siap, sehingga kepemilikan mobil listrik menjadi lebih praktis,” ujarnya.

Dari sisi ekonomi makro, Joshua Pardede melihat kondisi ekonomi nasional mulai memberikan dorongan positif bagi industri otomotif. Pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV tahun lalu tercatat di atas 5,4 persen, dengan konsumsi rumah tangga tumbuh lebih dari 5 persen.

“Ketika daya beli meningkat, permintaan kendaraan ikut naik, baik untuk kebutuhan pribadi, usaha, maupun armada,” jelas Joshua.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) turut memperlihatkan bahwa sektor transportasi dan leisure mencatat kinerja yang relatif lebih baik dibanding sektor lainnya. Hal ini memperkuat optimisme terhadap potensi pertumbuhan pasar kendaraan, termasuk mobil listrik.

Meski pasar otomotif nasional secara keseluruhan mengalami penurunan sekitar 7,9 persen, kendaraan listrik justru menunjukkan tren pertumbuhan. Karijanto mencatat, VinFast yang fokus pada kendaraan listrik murni (BEV) turut merasakan dampak positif, terutama dari penjualan di segmen mobilitas cerdas seperti armada taksi.

“Secara umum segmen yang paling tertekan adalah LCGC. Namun kendaraan listrik justru tumbuh cukup signifikan,” ujarnya.

Joshua menambahkan, penurunan di segmen LCGC tidak serta-merta mencerminkan perpindahan langsung konsumen ke mobil listrik. Menurutnya, perubahan yang terjadi lebih pada preferensi konsumen.

“Bukan shifting langsung, tetapi ketertarikan terhadap mobil listrik memang semakin besar, khususnya dari keluarga yang sudah memiliki mobil,” katanya.

Ia juga menyoroti perilaku konsumen generasi muda. Pembeli pertama dari kalangan Gen Z cenderung mengandalkan transportasi umum, sementara keluarga muda lebih memilih mobil bekas. Namun, bagi pemilik kendaraan yang ingin menambah unit, mobil listrik kini menjadi alternatif yang semakin menarik.

Dengan dukungan pertumbuhan ekonomi yang stabil, infrastruktur yang terus berkembang, serta efisiensi industri yang membaik, kendaraan listrik dinilai siap memasuki fase pertumbuhan berikutnya. Fokus industri ke depan bukan lagi semata pada insentif, melainkan pada kemampuan menghadirkan harga yang kompetitif secara berkelanjutan.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *