Harga Perak Tertekan, Investor Waspadai Volatilitas

Ilustrasi perak. (thehansindia.com)
INDOSBERITA.ID.JAKARTA – Pasar logam mulia kembali bergejolak. Harga perak mengalami penurunan signifikan pada Kamis (5/2/2026) setelah sebelumnya mencatat reli tajam dalam dua hari perdagangan. Perak spot tercatat jatuh 17,08% ke level US$ 73,13 per ons, membalikkan kenaikan sekitar 6% pada Rabu dan lonjakan 7,6% pada Selasa.
Tekanan jual belum mereda hingga Jumat (6/2/2026) pagi. Harga perak kembali melemah dan diperdagangkan di kisaran US$ 69,83 per ons, turun 1,09% dibandingkan posisi sebelumnya. Pergerakan harga yang ekstrem ini mencerminkan tingginya ketidakpastian di pasar logam mulia.
Gejolak harga perak bermula dari aksi jual besar-besaran yang terjadi pada Jumat pekan lalu. Saat itu, harga emas turun sekitar 9%, sementara perak anjlok hampir 30%, mencatatkan penurunan harian terdalam untuk kontrak berjangka perak sejak 1980.
Aksi jual masif tersebut dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran investor menyusul nominasi Kevin Warsh sebagai calon Ketua Federal Reserve. Tekanan pasar berlanjut hingga awal pekan ini, sebelum minat investor perlahan kembali ke aset safe haven seperti emas, seiring rotasi besar dari saham teknologi dan sektor perangkat lunak.
Sepanjang 2025, perak sempat tampil mengesankan dengan kenaikan harga sekitar 150% secara tahunan, melampaui kinerja emas. Namun, koreksi terbaru membuat harga perak kini turun lebih dari 30% dari rekor tertinggi yang baru dicapai beberapa hari sebelumnya.
Dari sisi prospek, UBS memperkirakan harga perak spot masih berpeluang mendekati US$ 100 per ons pada bulan depan, sebelum bergerak turun ke kisaran US$ 85 hingga akhir tahun. Meski demikian, tingginya harga dinilai berpotensi menekan permintaan, mengingat lebih dari separuh konsumsi perak berasal dari sektor industri seperti komputer, panel surya, perangkat medis, dan otomotif.
Goldman Sachs bersikap lebih konservatif terhadap perak dibandingkan emas. Bank investasi tersebut menyoroti keterbatasan pasokan serta tekanan likuiditas di pasar London yang dinilai memperbesar volatilitas harga.
Sementara itu, Bank of America menilai koreksi harga perak saat ini masih tergolong sehat. Menurut mereka, sebelumnya perak telah diperdagangkan jauh di atas nilai wajarnya yang berada di kisaran US$ 60–70 per ons. Meski demikian, defisit pasokan global diperkirakan tetap menjadi faktor penopang harga perak dalam jangka menengah.




