Harga Minyak Naik Dipicu Pelemahan Dolar dan Ketegangan Iran

Ilustrasi harga minyak naik. Foto: Anadolu.
INDOSBERITA.ID HOUSTON – Harga minyak mentah dunia melonjak tajam pada akhir pekan ini seiring melemahnya nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) dan terkoreksinya harga emas di pasar global. Kondisi tersebut mendorong investor kembali melirik minyak sebagai aset alternatif.
Pelemahan dolar AS umumnya membuat komoditas berdenominasi dolar menjadi lebih menarik. Setelah emas dan perak mencetak rekor tertinggi dan kemudian terkoreksi, arus investasi pun bergeser ke sektor energi, sehingga memicu kenaikan harga minyak.
Berdasarkan data Yahoo Finance pada Sabtu, 31 Januari 2026, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat sekitar 13 persen sepanjang Januari dan ditutup di level USD65,59 per barel. Sementara itu, minyak mentah Brent sebagai acuan pasar global mencatat kenaikan bulanan sebesar 14 persen dan diperdagangkan di kisaran USD69,88 per barel.
Selain faktor nilai tukar, sentimen geopolitik turut memperkuat reli harga minyak. Ketegangan meningkat setelah Amerika Serikat melontarkan ancaman serangan terhadap Iran, salah satu negara produsen minyak utama dunia. Presiden AS Donald Trump menyatakan armada besar telah dikerahkan ke kawasan tersebut, sementara Iran berjanji akan memberikan respons keras yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Kenaikan harga minyak berpotensi menekan perekonomian global karena berdampak langsung pada harga bahan bakar. Biaya transportasi yang lebih mahal akan berimbas pada harga barang dan jasa, sehingga meningkatkan tekanan inflasi.
Dalam situasi inflasi yang meningkat, bank sentral biasanya merespons dengan kebijakan moneter yang lebih ketat. Saat ini, Federal Reserve masih mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 4,50 hingga 4,75 persen. Namun, jika lonjakan harga minyak terus mendorong inflasi, The Fed berpeluang menaikkan suku bunga, yang berisiko menekan aset berisiko seperti bitcoin. (Zr)




