Harga Minyak Dunia Naik, Pemerintah Percepat Energi Terbarukan

Ilustrasi transisi energi. Foto: e2consulting.co.id
INDOSBERITA.ID JAKARTA – Kenaikan tajam harga minyak dunia yang dipicu ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran dinilai menjadi peluang bagi pemerintah Indonesia untuk mempercepat transformasi sektor energi. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melihat situasi ini sebagai pengingat pentingnya mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.
Juru Bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia, mengatakan lonjakan harga minyak global dapat menjadi momentum bagi Indonesia untuk mendorong pemanfaatan energi baru terbarukan secara lebih masif.
“Situasi ini menjadi momentum bagi pemerintah untuk mempercepat pengembangan energi baru terbarukan,” ujar Anggia, dikutip dari Antara, Selasa, 10 Maret 2026.
Harga minyak mentah dunia jenis Brent bahkan sempat menembus USD118 per barel, tertinggi sejak Juni 2022. Angka tersebut melonjak jauh dibandingkan rata-rata harga pada Januari 2026, ketika Brent berada di kisaran USD64 per barel dan minyak jenis WTI Amerika Serikat sekitar USD57,87 per barel.
Menurut Anggia, fluktuasi harga energi global tersebut menunjukkan bahwa ketahanan energi nasional tidak boleh bergantung pada satu sumber energi saja. Karena itu, pemerintah berupaya mempercepat pengembangan berbagai sumber energi alternatif.
Beberapa proyek yang didorong antara lain pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP), pembangkit listrik tenaga air (PLTA), hingga pengembangan bioenergi.
Selain itu, pemerintah juga terus memantau perkembangan geopolitik yang dapat memengaruhi stabilitas harga komoditas energi dunia. Langkah antisipatif disiapkan untuk menjaga pasokan energi dalam negeri tetap aman.
Salah satu skenario yang dipertimbangkan adalah diversifikasi sumber impor minyak, termasuk kemungkinan mengalihkan pasokan dari Timur Tengah ke negara lain yang tidak melalui jalur Selat Hormuz.
Di sisi lain, lonjakan harga minyak global juga berpotensi memberikan dampak positif bagi penerimaan negara dari sektor migas. Indonesia saat ini masih memiliki produksi minyak domestik yang mencapai lebih dari 600 ribu barel per hari.
“Di tengah dinamika harga minyak global, kondisi ini juga bisa memberikan tambahan PNBP dari sektor migas karena kita masih memiliki produksi dalam negeri,” kata Anggia.(Zr)




