Guru Besar UGM Zainal Arifin Mochtar Dapat Ancaman, Pelaku Catut Nama Polisi

Guru Besar UGM Zainal Arifin Mochtar Dapat Ancaman, Pelaku Catut Nama Polisi

Zainal Arifin Mochtar. (YouTube Kanal Pengetahuan FH UGM)

INDOSBERITA.ID, YOGYAKARTA – Aksi intimidasi terhadap  publik figur yang kerap menyuarakan kritik kembali terjadi. Kali ini, guru besar Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM), Zainal Arifin Mochtar, menjadi target ancaman oleh pihak tak bertanggung jawab yang mencatut nama institusi kepolisian.

Zainal, yang akrab disapa Uceng, mengungkapkan bahwa dirinya menerima sejumlah panggilan dari nomor tak dikenal pada Jumat (2/1/2026). Penelepon tersebut mengaku sebagai petugas Polresta Yogyakarta dan meminta Zainal segera datang dengan membawa kartu identitas. Ancaman penjemputan paksa disampaikan apabila permintaan itu tidak dipenuhi.

Merespons kejadian tersebut, Zainal memilih bersikap santai. Melalui akun Instagram pribadinya, @zainalarifinmochtar, ia menyampaikan bahwa dirinya tidak menggubris ancaman tersebut.

“Saya cuma ketawa, matikan ponsel, lalu lanjut ngetik,” tulisnya.

Namun, di balik respons ringan itu, Zainal menyoroti persoalan serius terkait lemahnya perlindungan data pribadi dan masih terbukanya ruang bagi praktik penipuan serta intimidasi digital yang kerap luput dari penegakan hukum.

Pihak kepolisian pun angkat bicara. Kapolresta Yogyakarta Kombes Pol Eva Guna Pandia menegaskan bahwa ancaman tersebut bukan berasal dari jajarannya. Ia memastikan bahwa setiap pemanggilan oleh kepolisian selalu dilakukan melalui mekanisme resmi.

“Tidak ada anggota kami yang melakukan itu. Proses pemanggilan selalu melalui surat resmi, bukan lewat telepon,” ujarnya, Sabtu (3/1/2026).

Kasus yang dialami Zainal menambah daftar panjang intimidasi terhadap tokoh dan aktivis yang vokal. Sebelumnya, pegiat media sosial Sherly Annavita melaporkan mobilnya dicoret-coret, sementara seniman sekaligus aktivis Chiki Fawzi menerima ancaman secara daring.

Tekanan juga dialami aktivis Greenpeace Indonesia, Iqbal Damanik, yang menerima kiriman bangkai ayam disertai pesan bernada ancaman terhadap keluarganya. Peristiwa serupa dialami kreator konten Ramon Dony Adam, yang rumahnya didatangi orang tak dikenal sebanyak dua kali pada akhir Desember lalu.

Rangkaian peristiwa ini menimbulkan kekhawatiran akan adanya pola intimidasi yang semakin terstruktur terhadap kebebasan berpendapat, terutama pascakritik keras terhadap kebijakan pemerintah. Hingga kini, para korban masih menunggu langkah konkret aparat penegak hukum untuk mengungkap pelaku di balik teror tersebut.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *