Ekspor Indonesia ke Timur Tengah Tetap Berjalan

Ekspor Indonesia ke Timur Tengah Tetap Berjalan

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso. MI/Naufal Zuhdi

INDOSBERITA.ID JAKARTA – Aktivitas ekspor Indonesia ke kawasan Timur Tengah masih berlangsung normal meskipun terjadi peningkatan biaya pengangkutan barang. Kenaikan biaya logistik tersebut menjadi salah satu tantangan yang saat ini dihadapi para pelaku usaha ekspor.

Menteri Perdagangan, Budi Santoso, mengatakan bahwa para eksportir tetap menjalankan kegiatan perdagangan ke negara-negara Timur Tengah. Informasi tersebut diperoleh dari pelaku usaha yang tergabung dalam Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI).

Menurut Budi, secara umum permintaan produk Indonesia dari kawasan tersebut masih stabil. Namun, peningkatan biaya transportasi menjadi kendala utama dalam proses pengiriman barang.

“Permintaan sebenarnya tidak mengalami penurunan. Hanya saja biaya pengangkutan yang meningkat,” ujarnya usai rapat koordinasi di Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta, Jumat.

Ia menambahkan, meski biaya logistik naik, eksportir Indonesia tetap melanjutkan pengiriman barang ke berbagai negara di Timur Tengah. Pemerintah berharap kondisi rantai pasok global dapat segera membaik agar kegiatan perdagangan internasional berjalan lebih efisien.

Sementara itu, data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan nilai ekspor Indonesia ke kawasan Timur Tengah mencapai sekitar USD9,06 miliar atau sekitar 3,5 persen dari total ekspor nasional.

Beberapa negara yang menjadi tujuan utama ekspor Indonesia di kawasan tersebut antara lain Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan Oman. Komoditas yang dikirim meliputi minyak sawit beserta turunannya, kendaraan dan suku cadang, logam mulia, serta produk kimia.

BPS juga mencatat bahwa ketegangan geopolitik di Timur Tengah berpotensi mempengaruhi perdagangan global. Salah satu jalur yang menjadi perhatian adalah Selat Hormuz, yang merupakan rute strategis pengiriman minyak dan komoditas dari kawasan Teluk ke berbagai negara.

Jika terjadi gangguan pada jalur tersebut, biaya logistik dan distribusi perdagangan internasional berpotensi meningkat. Meski demikian, dampaknya terhadap perdagangan Indonesia sejauh ini dinilai masih relatif terbatas.(zr)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *