Di Balik Penampilan Sederhana,Pak Tarno Nikmati Rutinitas Baru di Kota Tua Jakarta

Keadaan Pak Tarno,Photo Istimewa
INDOSBERITA.ID,JAKARTA – Di kawasan rindang Kota Tua Jakarta, suasana siang itu terasa santai. Di salah satu bangku taman, tampak seorang pria mengenakan kemeja merah mencolok dan topi khas duduk menikmati keramaian. Ia sesekali berbincang dengan pengunjung yang lewat, menyatu dengan aktivitas warga yang datang silih berganti.
Pria tersebut adalah Pak Tarno, figur yang dikenal luas lewat gaya sulapnya yang unik. Namun berbeda dari biasanya, kali ini ia tidak sedang tampil menghibur di atas panggung. Ia hanya menghabiskan waktu di ruang terbuka, sesuatu yang belakangan kerap ia lakukan.
Keberadaan Pak Tarno di tempat-tempat umum seringkali memunculkan berbagai asumsi. Sebagian orang mengira ia turun ke jalan karena kesulitan ekonomi. Padahal, menurut orang terdekatnya, aktivitas tersebut justru menjadi cara sederhana untuk menjaga semangat hidup.
Laura, manajernya, menjelaskan bahwa rutinitas di luar rumah membantu Pak Tarno tetap aktif secara mental. Ia menyebut, terlalu lama berdiam diri justru membuat kondisi psikisnya menurun.
Selain itu, Pak Tarno juga kerap mengisi waktu dengan berjualan, terutama di lingkungan sekolah pada hari kerja. Kegiatan tersebut tidak hanya membuatnya tetap produktif, tetapi juga menjadi sarana untuk menyalurkan kreativitasnya dalam menghibur, khususnya di hadapan anak-anak.
Interaksi langsung dengan masyarakat menjadi sumber energi tersendiri baginya. Dalam momen-momen tersebut, ia seperti kembali ke masa ketika aktif tampil sebagai pesulap yang menghibur banyak orang.
Kehadirannya pun selalu menarik perhatian. Banyak pengunjung yang antusias menyapa, berfoto, hingga berbincang ringan dengannya. Setelah itu, Pak Tarno biasanya memberikan kartu kecil bertuliskan identitasnya sebagai pesulap, sekaligus penawaran jasa hiburan untuk berbagai acara.
Meski kondisi fisiknya tidak lagi sekuat dulu, semangatnya untuk menghibur tetap terlihat. Aktivitasnya di ruang publik bukan bentuk mencari belas kasihan, melainkan bagian dari rutinitas yang ia nikmati untuk menjaga kebahagiaan dan kesehatan batinnya.




