Di Balik Hubungan Erat, Militer Vietnam Curigai Amerika

Tentara Vietnam. (Vietnam News/Vietnam News)
INDOSBERITA.ID.HANOI – Satu tahun setelah Vietnam meningkatkan hubungan diplomatiknya dengan Amerika Serikat ke Kemitraan Strategis Komprehensif, sebuah dokumen militer internal yang bocor memunculkan gambaran berbeda dari narasi resmi hubungan bilateral. Laporan yang dirilis Selasa (3/2/2026) mengungkapkan bahwa militer Vietnam tengah mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan “perang agresi” yang mereka kaitkan dengan Amerika Serikat, meski kedua negara secara resmi mempererat kerjasama politik dan ekonomi.
Dokumen berjudul The 2nd U.S. Invasion Plan, yang disusun oleh Kementerian Pertahanan Vietnam pada Agustus 2024, menggambarkan AS sebagai kekuatan “agresif” yang berpotensi menggunakan berbagai taktik – termasuk bentuk konflik yang tidak konvensional – terhadap negara-negara yang dianggap menyimpang dari pengaruhnya. Para perencana Vietnam mengakui risiko perang terbuka saat ini rendah, namun menekankan perlunya kewaspadaan untuk mencegah AS dan sekutunya “menciptakan alasan” intervensi.
Analis dan peneliti yang mengulas dokumen ini menyoroti dua lini kebijakan yang berjalan bersamaan di Hanoi: di satu sisi, pemerintah terus mengejar hubungan ekonomi dan investasi dengan AS, namun di sisi lain terdapat kekhawatiran kuat tentang ancaman eksternal terhadap stabilitas rezim Komunis. Kekhawatiran ini mencakup ancaman “revolusi warna”, yakni intervensi sosial-politik yang memicu pergantian rezim secara damai, yang menurut dokumen Vietnam bisa dipicu oleh pengaruh luar.
Ben Swanton, co-direktur The 88 Project yang menganalisis dokumen tersebut, mengatakan bahwa kekhawatiran terhadap kemungkinan campur tangan asing bukanlah pandangan marginal, melainkan konsensus di antara berbagai kementerian dalam pemerintahan Vietnam.
Meski demikian, hubungan formal antara Washington dan Hanoi tetap diposisikan sebagai kerjasama strategis. Sejak 2023, Vietnam dan AS menandatangani Kemitraan Strategis Komprehensif, yang bertujuan memperkuat kerja sama politik, ekonomi, dan keamanan di kawasan Indo-Pasifik. Pemerintah AS menegaskan bahwa kemitraan ini dirancang untuk mendorong stabilitas, kemakmuran, serta kebebasan di wilayah tersebut.
Para pengamat mencatat bahwa dokumen ini mencerminkan ketegangan internal yang mendalam di Vietnam, khususnya antara faksi militer yang berhati-hati terhadap pengaruh asing dan elemen pemerintahan yang lebih terbuka terhadap kerjasama luar negeri. Kekhawatiran historis akan ancaman eksternal serta pengalaman masa lalu kemungkinan turut membentuk pandangan strategis militer Vietnam terhadap hubungan dengan AS.




