Cocktail Party Deafness, Gejala Gangguan Pendengaran pada Lansia

Petugas kesehatan memeriksa telinga pasien di Rumah Sakit Kemenkes Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (14/3/2025). ANTARA FOTO/Hasrul Said.
INDOSBERITA.ID.JAKARTA – Gangguan pendengaran menjadi salah satu masalah kesehatan yang kerap dialami oleh orang lanjut usia (lansia). Dokter spesialis THT menyebut kondisi ini dapat dikenali melalui sejumlah tanda, salah satunya kesulitan mendengar ketika berada di tempat ramai.
Dokter spesialis telinga, hidung, tenggorokan–bedah kepala dan leher dari Rumah Sakit Umum Pusat Nasional dr. Cipto Mangunkusumo, Jenny Bashirudin, menjelaskan bahwa kondisi tersebut dikenal dengan istilah cocktail party deafness. Lansia yang mengalaminya biasanya kesulitan membedakan suara ketika berada di lingkungan yang bising.
Menurutnya, situasi ini sering muncul ketika lansia berada di keramaian atau mengikuti rapat dengan banyak orang berbicara. Dalam kondisi tersebut, suara yang terdengar menjadi tidak jelas sehingga membuat mereka merasa tidak nyaman saat berkomunikasi.
Selain kesulitan mendengar di tempat ramai, tanda lain gangguan pendengaran pada lansia adalah munculnya sensasi telinga berdenging meski tidak ada sumber suara. Kondisi ini disebut tinnitus dan biasanya berkaitan dengan kerusakan pada koklea, bagian telinga dalam yang berperan penting dalam proses pendengaran.
Perubahan kebiasaan sehari-hari juga dapat menjadi indikator awal gangguan pendengaran. Lansia yang mengalami masalah pada telinga cenderung menaikkan volume televisi lebih tinggi dari biasanya serta sering meminta lawan bicara mengulang perkataan.
Jenny yang juga tergabung dalam Perhimpunan Dokter Spesialis Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala dan Leher Indonesia menekankan pentingnya pemeriksaan dini jika tanda-tanda tersebut mulai muncul. Deteksi lebih awal dinilai dapat membantu menentukan penanganan yang tepat sehingga fungsi pendengaran tetap terjaga.
Ia menjelaskan bahwa gangguan pendengaran pada lansia umumnya berkaitan dengan proses penuaan yang memengaruhi struktur telinga, termasuk tulang-tulang pendengaran dan koklea. Jika tidak ditangani, kondisi tersebut dapat mempersulit komunikasi dan berdampak pada kualitas hidup.
Data dari World Health Organization menunjukkan bahwa gangguan pendengaran merupakan masalah kesehatan yang cukup luas di dunia. Lebih dari 400 juta orang diperkirakan mengalami gangguan ini, dan risikonya meningkat seiring bertambahnya usia.
Karena itu, pemeriksaan fungsi pendengaran secara berkala pada lansia menjadi langkah penting untuk memastikan gangguan dapat dideteksi lebih awal dan ditangani sesuai penyebabnya.




