Banjir Rendam Desa di Pandeglang, 968 Warga Terdampak

Banjir Rendam Desa di Pandeglang, 968 Warga Terdampak

Hujan deras berintensitas tinggi yang mengguyur wilayah selatan Kabupaten Pandeglang, Banten, sejak Jumat, 2 Januari 2026 malam hingga Sabtu, 3 Januari 2026 sore memicu meluapnya Sungai Cibaliung. Luapan sungai tersebut merendam permukiman warga, merusak infrastruktur, dan memutus akses antarwilayah di Kecamatan Cikeusik. (Beritasatu.com/Budiman)

INDOSBERITA.ID.Pandeglang – Hujan deras selama dua hari berturut-turut memicu banjir besar di Kecamatan Cikeusik, Kabupaten Pandeglang, Banten, yang merendam permukiman warga dan memutus akses jalan, Jumat (2/1/2026) malam hingga Sabtu (3/1/2026) sore. Luapan Sungai Cibaliung menyebabkan hampir seluruh Kampung Leuwigede, Desa Sumurbatu, terisolasi.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD-PK) Pandeglang mencatat sebanyak 968 jiwa dari 242 keluarga terdampak. Ketinggian air di beberapa titik mencapai 40–100 sentimeter, membuat kendaraan roda dua maupun roda empat tak bisa melintas.

Dampak banjir juga meluas ke sektor pendidikan dan pertanian. Sejumlah sekolah, mulai dari PAUD hingga SD, terendam. Ratusan hektare sawah di Desa Sumurbatu dan Desa Sukawaris ikut tergenang, menimbulkan risiko gagal panen bagi petani setempat.

“Kami terus memantau lokasi terdampak dan berkoordinasi dengan instansi terkait untuk membuka akses darurat serta menyalurkan bantuan logistik,” ujar Rian Sutansyah, Kasi Kedaruratan BPBD-PK Pandeglang, Minggu (4/1/2026).

Warga mengaku kesulitan menjalani aktivitas sehari-hari akibat isolasi. Sohani (39), warga Desa Sumurbatu, mengatakan air hujan menutup hampir seluruh badan jalan. “Motor dan mobil tidak bisa lewat sama sekali. Warga sangat membutuhkan sembako dan air bersih,” ungkapnya.

Banjir di Cikeusik kembali menegaskan kerentanan wilayah selatan Pandeglang terhadap bencana hidrometeorologi. Selain penanganan darurat, warga meminta pemerintah membangun drainase lebih baik, memperkuat bantaran sungai, dan menyiapkan infrastruktur tangguh agar bencana serupa tidak berulang setiap musim hujan.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *