Banjir di Pasir Ampo Picu Krisis Air Bersih

Banjir di Pasir Ampo Picu Krisis Air Bersih

Banjir di Desa Pasir Ampo, Kecamatan Kresek, Kabupaten Tangerang, Banten, merendam 185 rumah dan mengakibatkan warga mengalami krisis air bersih untuk minum dan beraktivitas. (Beritasatu.com/Wawan Kurniawan)

INDOSBERITA.ID.TANGERANG – Banjir yang merendam ratusan rumah di Desa Pasir Ampo, Kecamatan Kresek, Kabupaten Tangerang, Banten, masih belum menunjukkan tanda-tanda surut hingga Sabtu (17/1/2026) malam. Genangan air yang bertahan selama hampir sepekan itu memicu krisis air bersih dan air minum bagi warga terdampak.

Berdasarkan pantauan di lapangan, banjir dipicu oleh jebolnya tanggul Sungai Cidurian. Air sungai meluap deras melalui sejumlah titik tanggul yang rusak dan mengalir ke kawasan permukiman, membuat ratusan rumah terendam dengan ketinggian air bervariasi.

Kondisi tersebut memaksa sebagian warga mengungsi ke lokasi darurat. Di sepanjang jalan desa terlihat warga bertahan di gubuk-gubuk sederhana hingga di dalam kendaraan yang diparkir di tepi jalan. Sementara itu, sebagian lainnya memilih tetap tinggal di rumah meski aktivitas sehari-hari lumpuh akibat banjir.

Edi (86), salah satu warga terdampak, mengaku bersama keluarganya harus mengungsi ke gubuk kecil di bahu jalan. Ia mengatakan kesulitan terbesar yang dirasakan warga adalah minimnya pasokan air bersih dan air minum.

“Air minum susah sekali. Kadang satu hari cuma dapat satu nasi bungkus untuk satu keluarga. Minum kadang enggak ada, mandi juga pakai air banjir,” ujar Edi, Sabtu (17/1/2026) malam.

Keluhan serupa disampaikan Hamzah (72). Menurutnya, fasilitas air bersih seperti pompa air tidak dapat digunakan karena terendam banjir.

“Pompa air ada, tapi mati semua. Saya sudah tiga hari tidak mandi karena tidak ada air bersih,” katanya.

Untuk memperoleh air minum, warga terpaksa berjalan cukup jauh menembus jalan yang masih tergenang. Hamzah berharap pemerintah daerah segera turun tangan menangani kondisi darurat tersebut.

Kepala Dusun Desa Pasir Ampo, Sukemi, menyebutkan banjir dengan ketinggian antara 80 sentimeter hingga satu meter telah merendam sedikitnya 185 rumah warga. Ia menjelaskan, jebolnya tanggul Sungai Cidurian terjadi di lima titik dengan total panjang kerusakan sekitar 150 meter.

“Sejak 2015 belum pernah ada rehabilitasi tanggul. Akibatnya sekarang jebol dan air masuk ke permukiman,” ujar Sukemi.

Ia menambahkan, tidak semua warga mengungsi ke tempat penampungan resmi. Sebagian warga memilih bertahan di rumah, sementara lainnya mendirikan balai-balai darurat di depan rumah atau di pinggir jalan.

“Yang mengungsi itu warga yang rumahnya paling parah terendam. Ada yang tidur di balai depan rumah, ada juga di jalan,” jelasnya.

Sukemi menegaskan, kebutuhan paling mendesak saat ini adalah bantuan logistik, air bersih, dan air minum. Ia berharap pemerintah, khususnya Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau, Ciujung, dan Cidurian (BBWS C3), segera melakukan rehabilitasi tanggul Sungai Cidurian yang rusak.

“Korban banjir banyak. Kami berharap pemerintah segera membangun kembali tanggul ini agar kejadian serupa tidak terus berulang,” pungkasnya.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *