AS dan Rusia Sepakat Buka Dialog Militer

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin. (Associated Press/AP Production/Tracy Brown)
INDOSBERITA.ID.KIEV – Amerika Serikat dan Rusia menyepakati pembukaan kembali jalur komunikasi militer tingkat tinggi untuk pertama kalinya dalam lebih dari empat tahun. Kesepakatan ini menjadi sinyal mencairnya hubungan kedua negara, seiring dorongan Presiden AS Donald Trump untuk mengupayakan penghentian perang antara Rusia dan Ukraina.
Mengutip Associated Press, Jumat (6/2/2026), dialog militer tersebut dipandang sebagai elemen penting dalam membangun fondasi menuju penyelesaian konflik jangka panjang. Komando Eropa AS menyatakan bahwa komunikasi yang berkelanjutan antarmiliter akan terus dilakukan selama proses menuju perdamaian berlangsung.
“Kontak militer-ke-militer akan kembali dijalankan secara konsisten seiring upaya bersama menuju perdamaian yang berkelanjutan,” demikian pernyataan resmi Komando Eropa AS.
Sebelumnya, komunikasi militer tingkat tinggi antara Washington dan Moskow dihentikan pada akhir 2021, ketika ketegangan meningkat menjelang invasi besar Rusia ke Ukraina pada Februari 2022. Dalam masa kampanye menuju periode jabatan keduanya, Presiden Trump berulang kali menyatakan komitmennya untuk segera mengakhiri konflik Rusia-Ukraina, meskipun sejumlah gagasan perdamaian yang ia lontarkan menuai kritik karena dinilai menguntungkan pihak Rusia, termasuk opsi penyerahan sebagian wilayah Ukraina.
Kesepakatan untuk mengaktifkan kembali dialog militer ini tercapai melalui pertemuan pejabat militer senior AS dan Rusia yang digelar di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Jenderal Alexus Grynkewich, yang menjabat sebagai komandan pasukan AS dan NATO di Eropa, turut hadir dalam pertemuan tersebut.
Dalam kesempatan yang sama, pejabat dari Amerika Serikat, Rusia, dan Ukraina juga menggelar pembahasan lanjutan mengenai upaya mengakhiri perang, yang telah memasuki hari kedua perundingan.
Meski jalur diplomasi mulai dibuka, situasi keamanan di lapangan masih menunjukkan eskalasi. Laporan menyebutkan bahwa pasukan Rusia justru meningkatkan serangan terhadap infrastruktur energi Ukraina, termasuk jaringan listrik, yang ditujukan untuk mengganggu pasokan listrik warga sipil dan melemahkan dukungan publik terhadap perang.




