AEI Ingatkan Pertumbuhan Ekonomi Jangan Perlebar Kesenjangan

Perwakilan Aliansi Ekonom Indonesia (AEI) dan Secretary General of the International Economic Association Lili Yan Ing saat dialog The Forum Focus Group Discussion Outlook 2026: Atur Strategi Kejar Target Pertumbuhan Ekonomi 6% di kantor HQ B-Universe, PIK2, Tangerang, Banten, Rabu 14 Januari 2026. (Beritasatu.com/David)
INDOSBERITA.ID.TANGERANG – Aliansi Ekonom Indonesia (AEI) mengingatkan pemerintah agar upaya mendorong pertumbuhan ekonomi nasional tidak justru memicu pelebaran jurang ketimpangan sosial. Pertumbuhan, menurut AEI, harus diterjemahkan menjadi peningkatan kesejahteraan yang dirasakan merata oleh seluruh lapisan masyarakat.
Perwakilan AEI yang juga Sekretaris Jenderal International Economic Association, Lili Yan Ing, menilai angka pertumbuhan ekonomi semata tidak cukup dijadikan tolok ukur keberhasilan pembangunan. Pemerintah, kata dia, perlu memastikan bahwa hasil pertumbuhan benar-benar menyentuh kelompok berpendapatan rendah.
Ia mencontohkan kondisi sektor riil sepanjang 2025 yang menunjukkan indikasi kesenjangan. Kenaikan penjualan mobil yang mencapai 6,8 persen dinilai mencerminkan daya beli kelompok atas, sementara pertumbuhan penjualan sepeda motor yang hanya 1,3 persen menggambarkan stagnasi konsumsi masyarakat menengah ke bawah.
“Perbedaan ini memberi sinyal bahwa pertumbuhan ekonomi berisiko dinikmati lebih besar oleh kelompok tertentu. Itu baru satu indikator, belum termasuk sektor lain,” ujarnya dalam forum diskusi Outlook 2026 di Tangerang, Rabu (14/1/2026).
Selain isu ketimpangan, Lili juga menyoroti belum solidnya arah kebijakan ekonomi pemerintah. Ia menilai adanya perbedaan target pertumbuhan antarinstansi berpotensi menimbulkan kebingungan di pasar.
Menurutnya, indikator makro seperti pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan nilai tukar seharusnya menjadi satu kesepakatan nasional, bukan target yang berbeda-beda antar kementerian.
AEI pun mendorong pemerintah untuk menetapkan satu target pertumbuhan ekonomi yang jelas, konsisten, dan kredibel. Langkah tersebut dinilai penting agar kebijakan ekonomi memiliki arah yang tegas sekaligus meningkatkan kepercayaan pelaku usaha dan investor.




