BMKG Konfirmasi Badai Geomagnetik Ekstrem G4

BMKG Konfirmasi Badai Geomagnetik Ekstrem G4

Ilustrasi badai geomagnetik. (Dok NASA/Istimewa)

INDOSBERITA.ID.JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi terjadinya badai geomagnetik ekstrem berkategori G4 yang berdampak secara global. Peristiwa cuaca antariksa ini dipicu oleh aktivitas Matahari yang sangat kuat dan sempat menimbulkan kekhawatiran akan potensi gangguan terhadap berbagai sistem teknologi modern.

Badai geomagnetik terjadi ketika medan magnet Bumi mengalami gangguan akibat hantaman partikel bermuatan energi tinggi yang berasal dari Matahari. Fenomena tersebut umumnya dipicu oleh dua aktivitas utama Matahari, yakni suar Matahari (solar flare) dan lontaran massa korona atau coronal mass ejection (CME).

Saat Matahari melepaskan energi besar melalui suar, partikel bermuatan dapat melesat melintasi ruang antariksa hingga mencapai Bumi. Interaksi partikel tersebut dengan medan magnet Bumi menyebabkan fluktuasi magnetik yang dapat memengaruhi ionosfer dan sistem elektromagnetik, termasuk satelit dan komunikasi radio.

Aktivitas Matahari Picu Badai G4

BMKG menjelaskan badai geomagnetik global yang terjadi pada akhir Januari 2026 dipicu oleh aktivitas Matahari yang sangat intens pada Minggu, 18 Januari 2026. Pada saat itu, terdeteksi suar Matahari kelas X1.9, yang tergolong sebagai salah satu ledakan energi terkuat di permukaan Matahari.

Ledakan tersebut memicu gelombang elektromagnetik serta lontaran massa korona yang melaju cepat ke arah Bumi. Berdasarkan hasil pemantauan BMKG bersama lembaga geofisika internasional, peristiwa ini dikategorikan sebagai badai geomagnetik level G4, yakni badai geomagnetik kuat dengan potensi dampak signifikan secara global.

Dampak di Indonesia Lebih Ringan

Meski masuk kategori ekstrem, BMKG menyebut dampak badai geomagnetik G4 di wilayah Indonesia relatif terbatas. Kondisi ini dipengaruhi oleh letak geografis Indonesia yang berada di lintang rendah, dekat dengan garis ekuator.

Ketua Tim Kerja Geofisika Potensial BMKG, Syirojudin, menjelaskan wilayah ekuatorial memiliki mekanisme alami yang mampu meredam gangguan geomagnetik. Salah satunya adalah fenomena equatorial electrojet, yaitu arus listrik kuat di lapisan ionosfer yang dapat mengurangi masuknya partikel bermuatan energi tinggi.

Dengan kondisi tersebut, gangguan geomagnetik di Indonesia jauh lebih kecil dibandingkan wilayah lintang tinggi seperti Eropa, Amerika Utara, dan kawasan kutub.

Hasil Pemantauan Magnet Bumi

Selama berlangsungnya badai geomagnetik, BMKG melakukan pengamatan melalui jaringan observatorium magnet Bumi yang tersebar di berbagai daerah, termasuk di Sulawesi Utara. Hasil pengukuran menunjukkan adanya gangguan magnetik lokal dengan nilai indeks K berada pada kisaran 8 hingga 9.

Indeks K merupakan parameter ilmiah yang digunakan secara internasional untuk menilai tingkat gangguan medan magnet Bumi. Nilai tersebut menunjukkan kategori badai magnet besar hingga ekstrem, meski dampaknya melemah secara signifikan di wilayah ekuator.

Dampak dan Imbauan BMKG

BMKG menegaskan badai geomagnetik G4 tidak membahayakan kesehatan manusia. Namun, fenomena ini berpotensi menimbulkan gangguan sementara pada sistem teknologi tertentu, seperti penurunan akurasi navigasi GPS, gangguan komunikasi radio frekuensi tinggi, serta fluktuasi pada layanan satelit.

BMKG memastikan infrastruktur vital nasional, termasuk sistem kelistrikan, berada dalam kondisi aman dan tidak mengalami gangguan serius.

Sebagai langkah antisipasi, BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak panik jika terjadi gangguan teknis minor. Operator telekomunikasi, navigasi, dan satelit juga diminta meningkatkan pemantauan kualitas sinyal. Masyarakat diharapkan terus mengikuti informasi resmi BMKG terkait perkembangan aktivitas geomagnetik dan cuaca antariksa.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *