Utang Luar Negeri RI Menyusut, BI Klaim Struktur Tetap Sehat

Ilustrasi rupiah dan dolar AS. (Antara/Muhammad Adimaja)
INDOSBERITA.ID.JAKARTA – Bank Indonesia mencatat posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia mengalami koreksi pada November 2025. Nilai ULN tercatat sebesar US$ 423,8 miliar, turun dibandingkan Oktober 2025 yang berada di level US$ 424,9 miliar. Penurunan ini mencerminkan kontraksi sekitar 0,26 persen secara bulanan.
Meski demikian, secara tahunan ULN Indonesia masih tumbuh tipis sebesar 0,2 persen (year on year/yoy). Namun, laju pertumbuhan tersebut melambat dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 0,5 persen yoy, terutama akibat perlambatan ULN sektor publik.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Deny Prakoso, menjelaskan bahwa pengelolaan ULN tetap dilakukan secara pruden. Menurutnya, utang luar negeri masih menjadi salah satu instrumen pembiayaan APBN yang diarahkan untuk mendukung program prioritas pemerintah tanpa mengganggu kesinambungan fiskal.
“Pengelolaan ULN dilakukan secara hati-hati agar tetap mendukung pembangunan dan menjaga stabilitas ekonomi nasional,” ujar Ramdan, Kamis (15/1/2026).
Dari sisi pemerintah, posisi ULN tercatat sebesar US$ 209,8 miliar pada November 2025, turun dari US$ 210,5 miliar pada bulan sebelumnya. Pertumbuhan tahunan ULN pemerintah juga melambat menjadi 3,3 persen yoy, dari sebelumnya 4,7 persen yoy pada Oktober 2025. Dinamika ini dipengaruhi oleh perubahan kepemilikan Surat Berharga Negara (SBN) di tengah ketidakpastian pasar keuangan global. BI menegaskan, struktur ULN pemerintah tetap didominasi utang jangka panjang dengan porsi hampir 100 persen.
Sementara itu, utang luar negeri swasta juga mengalami penurunan. Posisinya tercatat US$ 191,2 miliar pada November 2025, lebih rendah dibandingkan US$ 191,7 miliar pada Oktober 2025. Secara tahunan, ULN swasta masih mengalami kontraksi sebesar 1,3 persen yoy, meski lebih baik dibandingkan kontraksi 1,5 persen yoy pada bulan sebelumnya.
BI mencatat penurunan ULN swasta terutama terjadi pada perusahaan nonlembaga keuangan. Dari sisi sektor, ULN swasta terbesar masih berasal dari industri pengolahan, jasa keuangan dan asuransi, pengadaan listrik dan gas, serta sektor pertambangan.
Secara keseluruhan, Bank Indonesia menilai kondisi ULN Indonesia tetap sehat. Rasio ULN terhadap PDB tercatat turun menjadi 29,3 persen pada November 2025, dengan dominasi utang jangka panjang yang mencapai 86,1 persen dari total ULN.
Ke depan, BI bersama pemerintah akan terus memperkuat koordinasi dalam memantau perkembangan utang luar negeri agar tetap berperan optimal sebagai sumber pembiayaan pembangunan tanpa menimbulkan risiko bagi stabilitas ekonomi nasional.




