Retorika Keras Trump Picu Ketegangan Regional

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. (AP Photo/Alex Brandon)
INDOSBERITA.ID.WASHINGTON – Kebijakan luar negeri Amerika Serikat kembali memicu ketegangan di kawasan Amerika Latin setelah Presiden Donald Trump mengeluarkan pernyataan keras menyusul operasi militer yang berujung pada penangkapan mantan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro. Langkah tersebut dinilai membuka babak baru hubungan yang semakin tegang antara Washington dan sejumlah negara di kawasan tersebut.
Dalam pernyataannya, Trump secara terbuka menuding Presiden Kolombia Gustavo Petro terlibat dalam jaringan perdagangan narkotika internasional. Ia menyebut Kolombia sebagai pusat produksi kokain dunia dan menilai kepemimpinan Petro tidak akan bertahan lama.
“Kolombia memiliki fasilitas produksi dan pengolahan kokain. Itu tidak akan dibiarkan berlanjut,” ujar Trump, seperti dikutip Sky News, Selasa (6/1/2026). Saat ditanya mengenai kemungkinan tindakan militer, Trump menanggapi singkat, “Itu terdengar masuk akal.”
Meski demikian, sejumlah pengamat menilai pendekatan terhadap Kolombia akan lebih kompleks dibanding Venezuela. Amerika Serikat selama ini memiliki hubungan kerja sama militer yang cukup kuat dengan Kolombia, sehingga langkah militer terbuka berisiko mengganggu stabilitas kawasan dan kepentingan strategis AS sendiri.
Trump juga mengarahkan kritik keras kepada Kuba, yang selama ini dikenal sebagai sekutu dekat Venezuela dan Rusia. Negara tersebut telah berada di bawah sanksi Amerika Serikat selama beberapa dekade sejak Revolusi Kuba pada 1959.
“Kuba akan runtuh. Mereka akan kalah besar,” kata Trump.
Situasi ekonomi Kuba diperkirakan akan semakin tertekan setelah jatuhnya Maduro, mengingat Venezuela selama ini menjadi salah satu pemasok utama minyak bersubsidi bagi Havana. Kondisi ini diperparah oleh krisis ekonomi berkepanjangan dan dampak bencana alam yang melanda negara tersebut pada 2025.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio turut menuding Kuba berperan dalam melindungi Maduro selama operasi militer Amerika. Ia menyebut pemerintahan Kuba sebagai tidak kompeten dan menilai pengaruhnya masih signifikan dalam dinamika politik kawasan.
Selain Kolombia dan Kuba, Trump juga menyoroti Meksiko, khususnya terkait maraknya perdagangan narkoba lintas perbatasan selatan Amerika Serikat.
“Meksiko harus berbuat lebih banyak. Mereka harus memperbaiki situasi ini,” ujar Trump. Ia mengklaim telah menawarkan bantuan militer, namun Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum disebut masih ragu menerima kehadiran pasukan AS.
Pernyataan Trump tersebut dinilai memperkeruh hubungan diplomatik Amerika Serikat dengan negara-negara Amerika Latin. Kolombia tengah menghadapi dinamika politik menjelang pemilu, Kuba berada dalam tekanan ekonomi berat, sementara Meksiko harus menyeimbangkan kerja sama keamanan dengan sensitivitas kedaulatan nasional.
Para analis menilai pendekatan keras Trump mencerminkan strategi Amerika Serikat untuk menegaskan kembali pengaruhnya di kawasan. Namun, langkah tersebut juga berpotensi memicu ketegangan diplomatik yang lebih luas dan memperburuk stabilitas regional Amerika Latin.




