BPS Catat Surplus Dagang RI Rp 643,7 Triliun hingga November

BPS Catat Surplus Dagang RI Rp 643,7 Triliun hingga November

Ilustrasi ekspor dan impor. (Antara/Rizal Hanafi)

INDOSBERITA.ID.JAKARTA – Kinerja perdagangan luar negeri Indonesia masih menunjukkan tren positif sepanjang Januari hingga November 2025. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia tetap berada di zona surplus dengan nilai mencapai US$ 38,54 miliar atau setara Rp 643,7 triliun.

Capaian tersebut terutama ditopang oleh kuatnya kinerja sektor nonmigas. Selama 11 bulan pertama 2025, perdagangan nonmigas membukukan surplus sebesar US$ 56,15 miliar atau sekitar Rp 937,9 triliun. Di sisi lain, sektor migas masih menjadi beban neraca perdagangan dengan defisit US$ 17,61 miliar atau setara Rp 294,2 triliun.

BPS juga melaporkan bahwa aktivitas impor Indonesia cenderung meningkat. Total impor sepanjang Januari–November 2025 mencapai US$ 218,02 miliar atau sekitar Rp 3.642,5 triliun, naik 2,03 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan impor terutama berasal dari sektor nonmigas yang tumbuh 4,37 persen menjadi US$ 188,61 miliar.

Sementara itu, dari sisi ekspor, Indonesia mencatatkan kinerja yang lebih kuat. Nilai ekspor nasional mencapai US$ 256,56 miliar atau sekitar Rp 4.285,7 triliun, tumbuh 5,61 persen secara tahunan. Ekspor nonmigas masih mendominasi dengan kontribusi US$ 244,75 miliar, meningkat 7,07 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Secara bulanan, impor pada November 2025 tercatat sebesar US$ 19,86 miliar, naik tipis 0,46 persen dibandingkan November 2024. Namun, impor nonmigas justru mengalami kontraksi 1,15 persen menjadi US$ 17 miliar, mengindikasikan adanya penyesuaian permintaan domestik.

Berdasarkan kelompok komoditas, impor mesin dan perlengkapan elektrik beserta bagiannya mencatatkan pertumbuhan tertinggi sepanjang Januari–November 2025. Nilainya naik US$ 3,7 miliar atau tumbuh 14,84 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sebaliknya, impor besi dan baja mengalami penurunan paling dalam, yakni sebesar US$ 1,24 miliar atau turun 12,65 persen.

Dari sisi negara asal, China masih menjadi pemasok utama impor nonmigas Indonesia dengan nilai US$ 77,52 miliar atau menguasai pangsa 41,1 persen. Jepang dan Amerika Serikat menyusul di posisi berikutnya dengan nilai impor masing-masing US$ 13,28 miliar dan US$ 8,93 miliar. Sementara itu, impor nonmigas dari kawasan ASEAN tercatat mencapai US$ 29,46 miliar, sedangkan dari Uni Eropa sebesar US$ 11,2 miliar.

Jika dilihat berdasarkan jenis penggunaan, lonjakan signifikan terjadi pada impor barang modal yang tumbuh 18,54 persen menjadi US$ 44,81 miliar. Sebaliknya, impor bahan baku atau penolong mengalami penurunan 1,46 persen, begitu pula impor barang konsumsi yang turun 2,02 persen. Kondisi ini mencerminkan pergeseran struktur impor ke arah kebutuhan investasi dan produksi jangka panjang.

 

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *