Drama Udara di Okinawa: Jet Tempur China Picu Ketegangan

Drama Udara di Okinawa: Jet Tempur China Picu Ketegangan

Photo Wikipedia

 

INDOSBERITA.ID.JAKARTA – Ketegangan di langit Okinawa kembali menyeruak,kali ini bukan sekadar manuver biasa, melainkan drama udara yang membuat para pengamat pertahanan kembali menahan napas. Dua jet tempur J-15 milik Angkatan Laut China dilaporkan dua kali mengunci radar pada pesawat F-15 milik Pasukan Bela Diri Udara Jepang (ASDF) di wilayah udara internasional.

Insiden pertama terjadi pada Sabtu (6/12/2025) antara pukul 16.32 hingga 16.35 waktu setempat. J-15 yang tinggal landas dari kapal induk Liaoning disebut mengarahkan radar penjejaknya langsung ke F-15 Jepang,langkah yang dalam terminologi militer, dianggap sebagai sinyal agresif yang bisa memicu salah tafsir.
Belum hilang ketegangan insiden pertama, selang dua jam kemudian, antara pukul 18.37 hingga 19.08, J-15 lain kembali melakukan hal serupa terhadap F-15 Jepang lainnya di titik yang hampir sama.

Kementerian Pertahanan Jepang memastikan tak ada kerusakan pada pesawat maupun personel. Namun, nada tegas mereka tidak dapat disembunyikan.


Mereka menilai tindakan J-15 tersebut sangat membahayakan dan telah melayangkan protes keras kepada China, sembari menuntut agar manuver seperti itu tidak terulang lagi.

Ketegangan ini bukan datang tiba-tiba; suhu politik Tokyo–Beijing telah memanas sejak Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, menyatakan bahwa serangan China terhadap Taiwan dapat menciptakan “situasi yang mengancam kelangsungan hidup” bagi Jepang. Pernyataan itu langsung memicu reaksi keras dari Beijing dan bahkan menuai protes dari partai oposisi di Jepang sendiri. Menanggapi itu, Kementerian Luar Negeri China memanggil Duta Besar Jepang, Kenji Kanasugi, sebagai bentuk ketidakpuasan resmi.dikutip dari Antara

Di balik semua dinamika ini, Taiwan,yang diperintah sendiri sejak 1949,tetap berada di pusat pusaran. Beijing mengklaim pulau itu sebagai provinsi yang harus dipersatukan, sementara hubungan negara-negara lain dengan Taipei selalu menjadi titik sensitif bagi China. Klaim kedaulatan itu dianggap tidak dapat dinegosiasikan oleh Beijing, walau dunia internasional terus memantau perkembangan dengan hati-hati.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *