UPB IAIN Kerinci Ajak Masyarakat Kenali Bahasa Isyarat

IAIN Kerinci memperingati Bulan Bahasa

INDOSBERITA.ID.SUNGAI PENUH – Dalam rangka memperingati Bulan Bahasa dan Hari Bahasa Isyarat Internasional (HBII), Unit Pengembangan Bahasa (UPB) IAIN Kerinci menggelar sebuah kegiatan istimewa yang menyatukan semangat inklusivitas dan keberagaman bahasa. Bekerja sama dengan GERKATIN (Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia) Kota Sungai Penuh, acara ini diselenggarakan pada Minggu (5/10) di Mini Teater Gedung SBSN Perpustakaan Digital IAIN Kerinci lantai 4.

Mengusung tema “Merangkai Aksara Tanpa Suara: Inspirasi untuk Pendidikan dan Kehidupan Inklusif,” acara ini menghadirkan sekitar 70 peserta dari kalangan mahasiswa, masyarakat umum, serta anggota GERKATIN. Sejak awal, suasana penuh kehangatan dan antusiasme tampak jelas, mencerminkan semangat saling menghargai dan keterbukaan terhadap perbedaan.

Acara dibuka secara resmi oleh Kepala UPB IAIN Kerinci, Yelni Erniyati, M.Pd., yang dalam sambutannya menegaskan bahwa bahasa adalah jembatan yang menyatukan perbedaan dan membangun pemahaman.

“Bahasa bukan hanya tentang berbicara dan menulis, tetapi juga tentang bagaimana kita saling memahami. Melalui kegiatan ini, kita belajar bahwa bahasa isyarat adalah bagian penting dari komunikasi manusia yang perlu kita hargai bersama,” ujarnya.

Yelni juga menekankan bahwa kolaborasi dengan GERKATIN merupakan wujud nyata komitmen UPB untuk membangun kampus yang ramah dan inklusif bagi semua kalangan. Ia berharap kegiatan ini menjadi pemantik bagi institusi pendidikan lainnya untuk lebih membuka ruang bagi bentuk-bentuk ekspresi bahasa yang beragam.

Sementara itu, Ketua Panitia, Yulpina, mengungkapkan rasa syukurnya atas terselenggaranya kegiatan ini. Ia menjelaskan bahwa persiapan melibatkan kerja sama lintas jurusan dan mendapat dukungan penuh dari pimpinan kampus serta GERKATIN.

“Kami sangat berterima kasih atas dukungan semua pihak. Semoga kegiatan ini menjadi sarana untuk menumbuhkan empati, menghargai perbedaan, dan memperkuat semangat kebersamaan di tengah keberagaman bahasa,” tuturnya.

Tak hanya menjadi ajang peringatan, acara ini juga menjadi ruang belajar yang membumi,menghadirkan praktik langsung penggunaan bahasa isyarat dan membangun pemahaman bersama akan pentingnya akses komunikasi yang setara. Momentum ini menjadi bukti bahwa inklusivitas bukan sekadar wacana, tapi bisa diwujudkan dalam tindakan nyata.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *