Hoegeng dan Kasus Mobil Mewah yang Mengakhiri Kiprahnya sebagai Kapolri

Hoegeng Iman Santoso, di ruang kerjanya ketika menjabat sebagai Kepala Bagian Reserse Kriminal di Kepolisian Sumatera Utara, 1965. Dok. Buku Hoegeng.
INDOSBERITA.ID.JAKARTA – Nama Jenderal Hoegeng Imam Santoso melekat kuat dalam sejarah Kepolisian Indonesia. Kapolri kelima itu dikenal karena sikap jujur dan komitmennya menjaga integritas selama memimpin Polri pada 1968–1971.
Namun, perjalanan Hoegeng sebagai Kapolri berakhir pada 2 Oktober 1971. Presiden Soeharto mencopotnya dari jabatan tersebut dan menunjuk Mohammad Hasan sebagai penggantinya.
Mengutip laporan Majalah Tempo edisi 14 Agustus 2021 berjudul Hoegeng Bukan Dongeng, salah satu perkara besar yang mencuat pada masa kepemimpinan Hoegeng berkaitan dengan penyelundupan mobil mewah yang melibatkan pengusaha Robby Tjahjadi.
Awalnya, Hoegeng menganggap perkara tersebut sebagai kasus penyelundupan biasa. Penanganan kasus kemudian membuatnya menemukan persoalan yang lebih luas.
Hoegeng melihat sejumlah pihak berusaha membebaskan Robby dari jerat hukum. Penyelidikan juga mengarah pada dugaan keterlibatan sejumlah anggota tentara dan personel bea cukai.
Kasus tersebut kemudian memperburuk hubungan Hoegeng dengan Soeharto. Perkara penyelundupan mobil mewah itu juga menjadi salah satu kasus besar terakhir yang Hoegeng tangani sebelum mengakhiri masa jabatannya sebagai Kapolri.
Pada 2 Oktober 1971, Hoegeng meninggalkan kursi Kapolri. Saat itu, usianya belum genap 50 tahun. Mohammad Hasan kemudian menggantikannya sebagai Kapolri.
Perkara Robby Tjahjadi terus berlanjut setelah Hoegeng lengser. Aparat akhirnya membawa Robby ke pengadilan dan hakim menjatuhkan hukuman penjara 10 tahun kepadanya.
Kehidupan Hoegeng setelah pensiun juga tidak menunjukkan kemewahan seperti yang mungkin dibayangkan dari seorang mantan pejabat tinggi. Kondisi keuangannya justru terbatas.
Setelah tidak lagi menjabat, Hoegeng harus mengembalikan berbagai fasilitas kedinasan, termasuk rumah dan mobil. Kondisi itu membuatnya kesulitan memiliki rumah atau tanah untuk tempat tinggal.
Kisah tersebut kemudian semakin memperkuat citra Hoegeng sebagai sosok yang menjalani kehidupan sederhana meski pernah menduduki sejumlah jabatan penting di kepolisian.



