Waspada! BGN Sebut Ini Makanan yang Berpotensi Sebabkan Diare pada Anak

Waspada! Ini Daftar Makanan Program MBG yang Berpotensi Sebabkan Diare pada Anak

Petugas menata menu makanan saat uji coba program makan bergizi gratis di dapur satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) Kota Magelang, Jawa Tengah. (Foto/Ilustrasi/Antara).

INDOSBERITA.ID.JAKARTA – Badan Gizi Nasional (BGN) menyoroti sejumlah menu dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai berisiko memicu gangguan pencernaan pada anak-anak. Temuan ini diperoleh dari hasil evaluasi tim pemantauan dan pengawasan yang dilakukan secara berkala di berbagai daerah.

Wakil Kepala BGN, Nanik Sudaryati Deyang, menjelaskan bahwa beberapa jenis makanan yang disajikan dalam program tersebut dapat menyebabkan keluhan seperti mual, muntah, hingga diare. Salah satu menu yang paling sering dikaitkan dengan masalah tersebut adalah soto.

Menurutnya, penggunaan bahan pelengkap yang tidak sepenuhnya matang seperti kol, seledri, dan tauge menjadi salah satu faktor utama. Selain itu, cara penyajian juga dinilai kurang tepat, terutama ketika kuah soto yang sudah dingin dicampurkan ke dalam bahan makanan oleh siswa.

Kondisi ini dinilai berpotensi memicu kontaminasi bakteri, termasuk E. coli, terutama jika makanan tidak ditangani dengan standar kebersihan yang memadai. Anak-anak dengan daya tahan tubuh rendah disebut lebih rentan mengalami gangguan pencernaan akibat hal tersebut.

Tak hanya soto, BGN juga mengidentifikasi menu lain yang mudah basi dan berisiko menimbulkan keluhan kesehatan, seperti nasi kuning, nasi uduk, dan nasi goreng. Jenis makanan ini membutuhkan penanganan khusus agar tetap aman dikonsumsi dalam waktu tertentu.

Selain itu, olahan mi terutama mi goreng yang langsung dicampur dengan sayuran—juga disebut memiliki potensi risiko jika tidak diolah dengan benar. Proses memasak yang kurang higienis dapat meningkatkan kemungkinan kontaminasi.

BGN turut menyoroti ayam suwir sebagai salah satu menu yang cukup sering dikaitkan dengan kasus keracunan makanan. Hal ini diduga berkaitan dengan kualitas bahan baku yang digunakan, di mana tidak semua penyedia menggunakan ayam dengan standar terbaik.

Sumber:Antaranews

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *