BMKG Jelaskan Penyebab Hujan Es di Dieng

BMKG Jelaskan Penyebab Hujan Es di Dieng

Ilustrasi Hujan Es (ChatGPT Image/ChatGPT Image)

INDOSBERITA.ID.JAKARTA – Fenomena hujan es yang terjadi di kawasan Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah, dijelaskan sebagai akibat proses atmosfer yang dipengaruhi kondisi cuaca ekstrem dan karakter wilayah pegunungan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut kejadian ini erat kaitannya dengan terbentuknya awan badai kumulonimbus.

Sekretaris Utama BMKG, Guswanto, mengungkapkan bahwa hujan es muncul karena adanya arus udara naik yang sangat kuat di dalam awan. Arus tersebut membawa butiran air ke lapisan udara bersuhu sangat rendah hingga akhirnya membeku.

Ia menjelaskan, proses pembentukan butiran es tidak terjadi sekali saja. Partikel es dapat terangkat kembali oleh arus udara di dalam awan, kemudian membesar karena lapisan air yang membeku di sekitarnya. Ketika ukurannya semakin besar dan berat, butiran tersebut akhirnya jatuh ke permukaan sebagai hujan es.

Menurutnya, fenomena ini biasanya berlangsung singkat karena berkaitan dengan badai lokal. Di wilayah Dieng, hujan es umumnya hanya terjadi dalam durasi puluhan menit sebelum kondisi kembali normal.

Selain faktor atmosfer, kondisi geografis juga menjadi pemicu penting. Kawasan Dieng yang berada di ketinggian sekitar 2.000 meter di atas permukaan laut memiliki suhu udara yang lebih dingin dibanding wilayah lain, sehingga mempercepat proses pembekuan.

Topografi pegunungan juga berperan dalam mendorong udara lembap naik secara cepat, yang kemudian memicu pertumbuhan awan badai. Kondisi ini semakin sering terjadi saat masa pancaroba, ketika atmosfer cenderung tidak stabil.

BMKG turut menegaskan perbedaan antara hujan es dan fenomena embun es atau yang dikenal sebagai embun upas. Hujan es terbentuk di dalam awan saat badai, sementara embun es muncul di permukaan tanah akibat penurunan suhu ekstrem pada malam hari.

Dari sisi dampak, hujan es berpotensi merusak tanaman serta mengganggu aktivitas warga. Meski demikian, pada kejadian kali ini tidak ditemukan laporan korban jiwa maupun kerusakan besar.

BMKG mengimbau masyarakat, khususnya di wilayah pegunungan, untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem selama masa peralihan musim. Fenomena hujan es sendiri ditegaskan sebagai proses alam yang dapat dijelaskan secara ilmiah, bukan sesuatu yang bersifat mistis.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *