Tradisi Woet Dodoi Hidup Kembali di Tengah Pascabanjir

Tradisi Woet Dodoi Hidup Kembali di Tengah Pascabanjir

Dari dapur darurat, warga Aceh Tamiang menjaga tradisi woet dodoi sebagai pengikat kebersamaan di tengah dampak banjir. (Beritasatu.com/Riski Ilham)

INDOSBERITA.ID.KUALA SIMPANG – Warga Desa Tanjung Seumantoh, Aceh Tamiang, kembali menghidupkan tradisi woet dodoi di tengah kondisi pascabanjir, Senin (23/3/2026). Kegiatan ini dilakukan dari dapur darurat sebagai bagian dari persiapan Lebaran sekaligus menjaga kebersamaan antarwarga.

Di tengah keterbatasan, masyarakat berkumpul di sekitar tungku sederhana untuk memasak dodol khas daerah. Adonan dalam kuali besar diaduk secara bergantian selama berjam-jam, menciptakan suasana hangat di tengah kondisi yang belum sepenuhnya pulih.

Tradisi woet dodoi bukan hanya soal membuat makanan, tetapi juga menjadi simbol kuatnya nilai gotong royong. Warga saling membantu dalam proses memasak yang memakan waktu hingga tujuh jam, memastikan dodol matang sempurna tanpa gosong.

Meski kelelahan dan panas tungku terasa, semangat kebersamaan tetap terjaga. Hasil masakan kemudian dinikmati bersama keluarga, dibagikan kepada tamu saat Lebaran, hingga dikirim kepada kerabat di perantauan.

Perayaan Lebaran tahun ini memang berbeda bagi warga Aceh Tamiang setelah dilanda banjir. Namun demikian, tradisi tetap dijalankan sebagai bentuk ketahanan dan upaya menjaga harapan.

Woet dodoi pun menjadi lebih dari sekadar warisan budaya, melainkan juga pengikat solidaritas sosial yang terus hidup di tengah berbagai tantangan.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *