BMKG Prediksi Kemarau 2026 di NTB Lebih Panjang

BMKG Prediksi Kemarau 2026 di NTB Lebih Panjang

Hamparan lahan kosong ladang jagung di Kecamatan Manggelewa, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat. Petani membiarkan ladang jagung kosong saat musim kemarau akibat curah hujan yang sedikit. ANTARA/Ady Ardiansah

INDOSBERITA.ID MATARAM – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprakirakan musim kemarau 2026 di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) akan berlangsung lebih panjang dari biasanya. Kondisi ini diperkirakan terjadi selama delapan hingga sembilan bulan, sehingga masyarakat diminta bersiap menghadapi potensi kekeringan.

Kepala Stasiun Klimatologi BMKG NTB, Nuga Putrantijo, mengatakan sebagian besar wilayah NTB akan mulai memasuki musim kemarau pada April 2026. Puncak kemarau diprediksi terjadi pada Agustus 2026 dan meluas hampir di seluruh wilayah provinsi tersebut.

“Durasi musim kemarau diperkirakan sekitar 25 hingga 27 dasarian atau kurang lebih delapan sampai sembilan bulan. Ini termasuk cukup panjang sehingga perlu diantisipasi sejak dini,” ujar Nuga dalam konferensi pers di Mataram, Senin, 9 Maret 2026.

BMKG mengungkapkan ada beberapa faktor yang memicu kemarau panjang di NTB tahun ini. Salah satunya adalah fenomena El Nino Southern Oscillation (ENSO) yang saat ini berada pada fase netral. Kondisi tersebut diperkirakan masih bertahan hingga pertengahan 2026 dan berpotensi memperkuat musim kemarau pada paruh kedua tahun ini.

Selain itu, pengaruh muson Australia yang membawa angin timuran kering juga diprediksi akan semakin aktif mulai April 2026. Angin tersebut membawa massa udara kering dari Australia menuju wilayah Indonesia sehingga mengurangi peluang terbentuknya awan hujan.

Faktor lainnya berasal dari kondisi suhu permukaan laut di sekitar wilayah Indonesia yang cenderung normal hingga lebih dingin, terutama di bagian barat dan selatan. Kondisi ini membuat pembentukan awan hujan menjadi lebih terbatas, khususnya di wilayah NTB.

BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk mulai melakukan langkah antisipasi, terutama terkait pengelolaan sumber air dan sektor pertanian. Dengan persiapan sejak dini, dampak kemarau panjang diharapkan dapat diminimalkan.(Zr)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *