Lelang SBSN Diperkirakan Tetap Oversubscribed

Lelang SBSN Diperkirakan Tetap Oversubscribed

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet (Istimewa)

INDOSBERITA.ID.JAKARTA – Pasar surat berharga negara (SBN) diperkirakan masih menghadapi tekanan dalam waktu dekat akibat meningkatnya ketidakpastian global, terutama terkait memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Kondisi tersebut memicu arus keluar dana asing dari pasar obligasi negara berkembang, termasuk Indonesia.

Ekonom dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, mengatakan pergerakan pasar SBN pada pekan ini kemungkinan masih berfluktuasi. Investor cenderung berhati-hati sehingga mendorong potensi kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah.

Menurut Yusuf, meningkatnya ketegangan geopolitik global membuat investor global melakukan langkah pengalihan dana ke instrumen yang dianggap lebih aman, seperti obligasi pemerintah negara maju. Fenomena ini dikenal sebagai flight to quality, yang biasanya memberi tekanan pada aset negara berkembang karena investor meminta tingkat imbal hasil yang lebih tinggi sebagai kompensasi risiko.

Selain faktor global, pasar juga masih mencermati penilaian lembaga pemeringkat terhadap kondisi fiskal Indonesia. Situasi tersebut membuat pelaku pasar cenderung menunda pengambilan keputusan investasi hingga memperoleh kejelasan lebih lanjut mengenai prospek ekonomi domestik.

Meski demikian, Yusuf memperkirakan lelang surat berharga syariah negara (SBSN) yang dijadwalkan pada Selasa (10/3/2026) tetap akan mencatat kelebihan permintaan. Pemerintah menargetkan penghimpunan dana sekitar Rp11 triliun dalam lelang tersebut.

Ia menilai permintaan terhadap SBN masih cukup kuat secara struktural karena didukung oleh investor domestik, seperti perbankan, perusahaan asuransi, serta dana pensiun. Kelompok investor ini membutuhkan instrumen investasi yang relatif aman dengan jangka waktu menengah hingga panjang untuk menempatkan dana mereka.

Namun dalam kondisi pasar yang lebih berhati-hati, investor biasanya meminta imbal hasil sedikit lebih tinggi. Artinya, mereka tetap mengikuti lelang obligasi, tetapi dengan mempertimbangkan tingkat keuntungan yang lebih menarik.

Dari sisi tenor, obligasi dengan jangka waktu menengah hingga sekitar 10 tahun diperkirakan akan menjadi pilihan utama investor. Tenor tersebut dianggap memberikan keseimbangan antara potensi keuntungan dan tingkat risiko yang masih terkendali.

Selain itu, sebagian investor juga mulai menata portofolio untuk mengunci imbal hasil pada level saat ini. Langkah tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan kemungkinan kebijakan suku bunga yang lebih longgar dalam beberapa waktu ke depan.

Untuk jangka pendek, imbal hasil SBN tenor 10 tahun diperkirakan bergerak di kisaran 6,5 persen hingga 6,7 persen. Meski terdapat potensi kenaikan tipis akibat sentimen global, permintaan dari investor domestik dinilai masih mampu menahan tekanan yang lebih besar di pasar obligasi pemerintah.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *