Cara Kerja Klausul Degradasi di Sepak Bola

Premier League. (Istimewa)
INDOSBERITA.ID.SPORT – Klausul degradasi kembali menjadi sorotan dalam dunia sepak bola setelah muncul kabar bahwa pemain Tottenham Hotspur terancam mengalami pemotongan gaji jika tim tersebut turun kasta dari Premier League. Ketentuan semacam ini sebenarnya bukan hal baru, karena banyak klub memasukkan klausul tersebut untuk melindungi kondisi keuangan mereka.
Laporan dari Express.co.uk menyebutkan sebagian besar kontrak pemain Spurs memuat ketentuan pemotongan gaji hingga sekitar 50 persen apabila klub terdegradasi ke EFL Championship. Kebijakan itu bertujuan menyesuaikan pengeluaran klub dengan penurunan pendapatan yang biasanya terjadi setelah turun dari liga tertinggi.
Secara regulasi, baik FIFA maupun UEFA tidak memiliki aturan yang secara otomatis mewajibkan pemotongan gaji pemain ketika klub terdegradasi. Gaji pemain tetap mengacu pada kontrak kerja yang disepakati bersama antara klub dan pemain.
Namun, klub dan pemain dapat menyertakan klausul khusus dalam kontrak yang mengatur penyesuaian gaji apabila tim turun divisi. Jika klausul tersebut tercantum, maka pemotongan gaji bisa berlaku secara otomatis sesuai dengan kesepakatan yang telah ditandatangani kedua pihak.
Contoh penerapan kebijakan serupa juga muncul di Italia. Dalam regulasi terbaru di Serie A musim 2025/2026, pemain yang menandatangani kontrak setelah 2 September 2025 akan mengalami pemotongan gaji otomatis sebesar 25 persen apabila klub mereka terdegradasi ke Serie B.
Klausul degradasi sendiri biasanya termasuk dalam bagian kontrak yang dikenal sebagai contingency clause atau klausul kondisi tertentu. Isi klausul tersebut umumnya menyatakan bahwa gaji dasar pemain akan berkurang dengan persentase tertentu jika klub resmi turun ke divisi lebih rendah pada akhir musim.
Pemotongan gaji ini tidak langsung berlaku saat kompetisi masih berjalan. Kebijakan tersebut baru dijalankan setelah degradasi dinyatakan resmi secara administratif, biasanya mulai berlaku pada awal musim berikutnya.
Tanpa klausul tersebut, klub tidak memiliki dasar hukum untuk memotong gaji pemain secara sepihak. Kontrak pemain profesional dilindungi oleh hukum ketenagakerjaan serta regulasi FIFA, sehingga perubahan gaji harus sesuai dengan kesepakatan yang tercantum dalam kontrak.
Jika klub tetap melakukan pemotongan tanpa dasar kontrak, pemain berhak mengajukan sengketa ke badan penyelesaian konflik olahraga. Dalam kasus tertentu, klub bahkan bisa menghadapi sanksi finansial atau pembatasan aktivitas transfer.
Karena itu, banyak klub memilih memasukkan klausul degradasi sebagai langkah antisipasi. Ketika tim turun dari Premier League, pendapatan dari hak siar televisi dapat merosot lebih dari setengahnya, sementara nilai kerja sama dengan sponsor juga berpotensi ikut menurun.
Tanpa penyesuaian pengeluaran, kondisi tersebut dapat memicu tekanan finansial serius bagi klub. Klausul degradasi pun menjadi salah satu cara untuk menjaga stabilitas keuangan ketika tim harus menghadapi kemungkinan turun kasta.




