Trump Singgung Pengambilalihan Damai Kuba

Presiden AS Donald Trump. (EPA-EFE)
INDOSBERITA.ID WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali memicu perhatian publik setelah menyatakan adanya kemungkinan “pengambilalihan secara damai” terhadap Kuba. Pernyataan itu ia sampaikan kepada wartawan sebelum bertolak dari Gedung Putih menuju Texas.
Trump mengatakan bahwa pemerintah Kuba tengah berada dalam kondisi ekonomi yang sangat sulit dan membuka komunikasi dengan Washington. Ia menyebut Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, sedang menangani isu tersebut di tingkat yang sangat tinggi. Menurutnya, situasi di Kuba menunjukkan kebutuhan mendesak akan perubahan dan dukungan eksternal.
Meski demikian, pemerintah Kuba langsung merespons dengan menegaskan tidak ada pembicaraan tingkat tinggi resmi dengan Amerika Serikat. Havana tidak secara tegas membantah adanya kemungkinan kontak informal, namun menolak anggapan bahwa terdapat negosiasi strategis terkait masa depan pemerintahan negara tersebut.
Laporan sebelumnya dari Axios menyebut adanya komunikasi rahasia antara pihak yang dekat dengan Rubio dan Raul Guillermo Rodriguez Castro, cucu dari mantan Presiden Kuba, Raul Castro. Namun hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari kedua belah pihak mengenai substansi pembicaraan tersebut.
Ketegangan antara kedua negara juga meningkat setelah insiden bersenjata di perairan Kuba yang melibatkan kelompok pengasingan dari Florida. Otoritas Kuba melaporkan empat orang tewas dan enam lainnya terluka setelah kapal cepat yang terdaftar di Florida melepaskan tembakan ke arah patroli laut Kuba. Rubio membantah bahwa insiden tersebut merupakan operasi yang didukung pemerintah AS.
Di tengah krisis ekonomi dan energi yang memburuk akibat pembatasan pengiriman minyak dan tekanan internasional, situasi politik di Kuba kembali menjadi sorotan. Komunitas diaspora Kuba di Amerika Serikat selama ini dikenal vokal dalam menyerukan perubahan pemerintahan di Havana.
Trump menilai bahwa keterlibatan Amerika Serikat bisa membawa dampak positif bagi rakyat Kuba, termasuk mereka yang berada di pengasingan dan ingin melihat transformasi di tanah kelahiran mereka. Namun hingga saat ini, belum ada langkah konkret atau kebijakan resmi yang diumumkan Washington terkait kemungkinan tersebut.(Zr)




