Pemerintah Awasi Harga Pangan Jelang Ramadan

Pemerintah Awasi Harga Pangan Jelang Ramadan

Ilustrasi harga bahan kebutuhan masyarakat. (Antara/Abdan Syakura)

INDOSBERITA.ID.JAKARTA – Kenaikan harga bahan pokok menjelang Ramadan kembali terjadi tahun ini. Sejumlah komoditas seperti cabai, bawang, daging ayam, telur, hingga daging sapi mulai merangkak naik seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat menghadapi bulan puasa.

Lonjakan konsumsi rumah tangga untuk kebutuhan sahur dan berbuka menjadi faktor utama meningkatnya permintaan. Namun, pasokan kerap tidak mampu merespons cepat karena bergantung pada musim panen serta distribusi yang tidak selalu lancar.

Peneliti Center of Reform on Economics (CoRE) Indonesia, Eliza Mardian, menilai kenaikan harga pangan saat Ramadan bukan sekadar fenomena musiman. Ia menyebut persoalan tersebut berkaitan dengan struktur sistem pangan nasional yang masih memiliki banyak kelemahan.

Menurut Eliza, produksi komoditas pangan memiliki siklus tertentu, sementara permintaan melonjak dalam waktu singkat. Keterbatasan fasilitas penyimpanan seperti cold storage membuat stok tidak dapat ditahan saat panen raya untuk digunakan ketika permintaan meningkat.

“Tanpa infrastruktur penyimpanan yang memadai, komoditas mudah rusak seperti cabai dan bawang sulit distabilkan harganya,” ujarnya, Senin (16/2/2026).

Selain faktor produksi, ia juga menyoroti kemungkinan adanya penahanan stok oleh sebagian pelaku pasar yang memanfaatkan momentum kenaikan permintaan. Karena itu, ia mendorong pemerintah memperkuat transparansi data pangan, memperbaiki distribusi, serta menindak tegas praktik yang merugikan konsumen.

Sidak Pasar dan Intervensi Distribusi

Untuk memastikan stabilitas harga, pemerintah melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas) bersama Satgas Pangan melakukan inspeksi di sejumlah pasar utama Jakarta, termasuk Pasar Induk Kramat Jati dan Pasar Minggu.

Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, menyatakan pasokan sejumlah komoditas strategis dalam kondisi cukup. Harga bawang merah dan daging sapi masih berada dalam rentang harga acuan pemerintah, sementara beras SPHP dijual sesuai harga eceran tertinggi.

Meski demikian, cabai rawit merah tercatat sempat menyentuh Rp 90.000 per kilogram sebelum turun ke kisaran Rp 80.000. Pemerintah pun mengoptimalkan program Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP) untuk menekan ongkos angkut dari sentra produksi ke Jakarta.

Satgas Pangan Polri yang dipimpin Brigjen Zain Dwi Nugroho juga memastikan pengawasan dilakukan secara terpadu guna mencegah penimbunan dan kenaikan harga tidak wajar.

Menurut Ketut, secara nasional produksi cabai sebenarnya mencukupi. Kendala utama lebih pada faktor cuaca dan tenaga kerja panen saat musim hujan, yang menyebabkan distribusi ke pasar sempat terhambat.

Pemerintah berharap kombinasi tambahan pasokan dari daerah sentra seperti Jawa Barat dan Sulawesi Selatan serta intervensi biaya distribusi dapat menjaga harga tetap stabil hingga Idulfitri.

Dengan penguatan pengawasan dan distribusi, stabilitas harga pangan diharapkan tetap terjaga sehingga daya beli masyarakat, terutama kelompok menengah ke bawah, tidak semakin tertekan menjelang Ramadan.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *