Harga Emas Melonjak, Tanda Perubahan Sistem Keuangan

Harga emas mencetak rekor tertinggi baru di tengah meningkatnya pembelian bank sentral dan kekhawatiran fiskal global. (Foto: Dok.)
INDOSBERITA.ID JAKARTA –Â Kenaikan harga emas dalam beberapa tahun terakhir memicu perdebatan di kalangan pelaku pasar global. Sebagian analis menilai reli tersebut sebagai tanda terbentuknya gelembung, sementara yang lain melihatnya sebagai sinyal perubahan besar dalam sistem keuangan dunia.
Dalam tiga tahun terakhir, nilai pasar emas disebut melonjak lebih dari USD20 triliun. Namun, kepemilikan emas di banyak portofolio investasi, termasuk dana pensiun dan investor individu, masih relatif kecil. Kondisi ini dinilai menunjukkan adanya pergeseran mendasar yang belum sepenuhnya disadari oleh pasar.
Secara historis, gelembung aset biasanya ditandai oleh euforia berlebihan dan partisipasi massal investor ritel. Fenomena serupa pernah terjadi pada era dot-com di awal 2000-an dan tren kripto pada 2021. Namun, situasi emas saat ini dinilai berbeda.
Menurut sejumlah analis, kenaikan harga emas bukan didorong spekulasi investor ritel, melainkan perubahan strategi bank sentral di berbagai negara. Sejak beberapa tahun terakhir, bank sentral tercatat meningkatkan pembelian emas dalam jumlah besar sebagai bagian dari diversifikasi cadangan devisa.
Langkah ini dipicu meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan kekhawatiran terhadap risiko sistem keuangan berbasis utang. Emas dipandang sebagai aset yang tidak memiliki risiko kredit, tidak bisa disita secara digital, dan tidak dapat dicetak seperti mata uang.
Selain itu, lonjakan utang pemerintah di berbagai negara besar, terutama Amerika Serikat, turut memperkuat minat terhadap emas. Investor mulai melihat emas sebagai pelindung nilai terhadap potensi pelemahan mata uang akibat tekanan fiskal.
Kondisi ini juga berdampak pada strategi investasi tradisional. Portofolio klasik 60 persen saham dan 40 persen obligasi dinilai tidak lagi memberikan perlindungan optimal, terutama saat inflasi tinggi membuat kedua aset tersebut sama-sama tertekan.
Sejumlah pengamat menilai situasi saat ini memiliki kemiripan dengan dekade 1970-an, ketika inflasi tinggi mendorong harga emas melonjak tajam. Namun, kondisi saat ini dianggap lebih kompleks karena tingkat utang global yang jauh lebih besar.
Di sisi lain, pasar perak juga mendapat perhatian. Permintaan industri untuk energi terbarukan, kendaraan listrik, dan teknologi elektronik disebut menyebabkan defisit pasokan dalam beberapa tahun terakhir.
Meski prospeknya dinilai positif, analis mengingatkan bahwa harga emas tetap berpotensi mengalami koreksi tajam. Sejarah menunjukkan, dalam periode kenaikan panjang, emas pernah mengalami penurunan signifikan sebelum kembali melonjak.
Dengan kondisi tersebut, sejumlah institusi keuangan global mulai menyesuaikan strategi portofolio, termasuk meningkatkan porsi aset alternatif seperti emas sebagai pelindung nilai jangka panjang.(Zr)




