Bitcoin Anjlok, Tekanan di Pasar Kripto Meningkat

Ilustrasi Bitcoin (Freepik/Fabrikasimf)
INDOSBERITA.ID.JAKARTA – Harga Bitcoin kembali tertekan dan kini telah menghapus seluruh kenaikan yang sempat terbentuk sejak terpilihnya Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Situasi tersebut memunculkan kekhawatiran baru di kalangan pelaku pasar kripto, terutama terkait menurunnya likuiditas dan tingginya volatilitas harga.
Tekanan di pasar aset digital dipicu oleh sentimen global, termasuk kekhawatiran investor terhadap valuasi saham teknologi yang dinilai terlalu mahal serta ketidakjelasan arah kebijakan suku bunga bank sentral AS. Ketidakpastian tersebut membuat investor cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko, termasuk kripto.
Analis riset dari perusahaan data kripto Kaiko, Thomas Probst, menilai pelemahan ini bukan fenomena sesaat. Menurutnya, tekanan pasar telah berlangsung selama beberapa bulan terakhir dan berpotensi berlanjut dalam waktu dekat. Kondisi likuiditas yang semakin tipis turut memperbesar fluktuasi harga Bitcoin.
Gejolak pasar semakin terasa setelah Presiden Trump menunjuk Kevin Warsh sebagai calon ketua Federal Reserve. Langkah tersebut memicu spekulasi bahwa The Fed akan memperketat kebijakan moneter dengan memperkecil neraca, yang berpotensi menekan minat terhadap aset lindung nilai alternatif seperti Bitcoin.
Dalam beberapa hari terakhir, harga Bitcoin sempat anjlok tajam sebelum mencoba bangkit kembali. Aset kripto terbesar dunia itu bahkan turun ke bawah level US$61.000, jauh dari rekor tertingginya yang sempat menembus US$126.000 pada Oktober 2025.
Meski tekanan masih kuat, sebagian analis melihat sinyal bahwa pasar mulai mendekati titik terendah. Head of Research CoinShares, James Butterfill, menilai sejumlah indikator menunjukkan potensi stabilisasi harga dalam waktu dekat. Ia menyebut, kondisi pasar saat ini justru dipandang sebagian investor sebagai peluang akumulasi.
Butterfill juga menyoroti aktivitas investor besar atau “whales” yang mulai melambat dalam melakukan aksi jual. Hal ini dinilai bisa menjadi sinyal awal meredanya tekanan di pasar kripto, meski risiko volatilitas masih tetap membayangi.




