Respons UE, Iran Sebut Militer Eropa Teroris

Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf. (AP Photo/Vahid Salemi)
INDOSBERITA.ID.TEHERAN – Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf menyatakan bahwa Iran kini memandang seluruh kekuatan militer Uni Eropa sebagai kelompok teroris. Sikap tersebut diambil sebagai balasan atas langkah Uni Eropa yang lebih dulu menetapkan Garda Revolusi Iran sebagai organisasi teroris, menyusul meningkatnya korban jiwa dalam gelombang unjuk rasa di Iran sejak akhir Desember 2025.
Menurut laporan ABC News, Minggu (1/2/2026), pernyataan itu disampaikan Qalibaf dalam forum parlemen. Ia tampil bersama sejumlah anggota parlemen lain dengan mengenakan seragam Garda Revolusi sebagai simbol dukungan terhadap institusi militer elite tersebut.
Garda Revolusi Iran memiliki peran strategis dalam sistem pertahanan negara, termasuk penguasaan persenjataan rudal balistik. Selain itu, lembaga ini juga dikenal memiliki pengaruh besar dalam sektor ekonomi dan berada langsung di bawah komando Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Qalibaf menilai keputusan Uni Eropa mencap Garda Revolusi sebagai kelompok teroris merupakan langkah keliru yang dipengaruhi kepentingan Amerika Serikat. Ia menyebut kebijakan tersebut justru merugikan negara-negara Eropa sendiri.
“Langkah itu menunjukkan kepatuhan buta terhadap Amerika dan pengabaian terhadap kepentingan rakyat Eropa,” ujar Qalibaf.
Pernyataan keras tersebut muncul di tengah memburuknya hubungan Iran dan Uni Eropa, seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya menyatakan bahwa Washington sedang mempertimbangkan kemungkinan tindakan militer terhadap Iran.
Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah kapal perang Amerika Serikat dilaporkan bergerak ke wilayah Timur Tengah dan mendekati perairan Iran. Sebagai respons, Teheran menggelar latihan militer di Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang menjadi salah satu titik terpenting bagi distribusi energi global.
Situasi ini menambah kekhawatiran akan potensi eskalasi konflik di kawasan.




